Just Another Way to Send Out My Mind

April 12, 2012

Kau Rayu Aku Hingga Sedemikian Merindunya

Filed under: Uncategorized — udee @ 3:17 pm

Aku berpijak di  senja yang sunyi,. Hanya semilir angin yang menggoyangkan sebagian ilalang yang ada di sampingku. Entah apa yang membawaku, tapi aku merasakan dengan kuat. Ada yang memanggilku ke tempat ini. Aku tidak tahu apa. Aku hanya merasa harus ke tempat ini. Ini bukan tempat favorit, karena memang baru sekarang ini saya ke tempat ini. Mungkin bisa dibilang asal jalan saja saya ini. Tapi kenapa harus ke tempat ini. Tempat ini sama sekali tidak familiar buat saya.

“kenapa saya tiba-tiba ada di sini?” bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini. Untuk apa juga saya datang ke sini. Saya tidak tahu. Mau mencari tahu ke siapa? Tidak ada seorangpun yang bisa saya tanyakan. Udara di sini segar. Selain ilalalang tadi, masih banyak pohon yang menjulang tinggi. Daunnya masih lebat, aku tidak tahu nama pohon-pohon itu. Tapi mereka hampir serupa. Dan mereka membuat saya betah. Ada sekitar lima menit saya menutup mata untuk menikmati udara, tapi saya dikagetkan oleh suara burung. Indah sekali kicauannya. Tak pernah saya sekalipun mendengar kicauan indah seperti yang saya dengar barusan. Sepertinya bukan satu burung.

Dimana mereka? Kenapa mereka merayuku sampai sejauh ini, sampai melepaskan pelukan pohon-pohon yang begitu erat dengan udaranya yang segar. Aku terus mencoba mencari sumber kicau burung tadi. Tidak aku temukan. Suaranya semakin kecang dan indah, tapi kenapa aku masih tidak menemukan burung-burung itu. Bahkan saya putuskan untuk berjalan sedikit lebih cepat. Bahkan sudah mulai berlari. Pelan-pelan hingga akhirnya aku sangat kencang berlarinya. Tetap saja aku tidak menemukan burung-burung itu. Padahal kicauan merdu mereka menemaniku saat aku berlari dengan kencangnya. Dan… aku ada di mana lagi ini? aku berada di tengah hamparan ilalang yang luas, tanpa pohon yang menjulang seperti tempat sebelumnya.

Tempat yang sekarang ini jauh lebih indah. Benar-benar hijau. Anginnya pun jauh lebih pelan. Aku mengalihkan diriku dari kicauan burung tadi. Aku menikmati terpaan angin yang ada di depanku sekarang. Aku fokus pada hijaunya tempat ini, dan udara di tempat ini. Dan pada sosok yang tiba-tiba muncul di depanku. Sosok yang aku kenal, kakakku,  Mas Indra. Aku lihat tatapannya kosong, tapi ia tersenyum. Senyum yang khas. Aku balas senyum itu, dan aku mulai merasakan matanya mulai tersenyum, selaras dengan senyum di bibirnya. Menjadi indah sekali wajahnya. Aku lihat mas Indra begitu berbinar dan bahagia. Aku senang melihatnya. Perlahan aku menghampirinya.

“Dek, bangun. Sudah pagi, kita sucikan mas!” Aku sudah berlari, pelan aku membuka mata. Ibu memintaku lagi untuk bangun. Di depanku,aku melihat mas Indra terbaring, senyum di wajahnya begitu tulus. Aku ingin menemanimu, dan terima kasih sudah membawaku ke tempat yang indah tadi. Setidaknya saya tahu, Mas Indra bahagia di sana.

 

May you rest in peace. It’s just a writing of mine,  Coz I miss you my bro.

Puri Casablanca, 11:05 PM – 11 April 2012

 

 

April 9, 2012

Terbaik Buat Kita

Filed under: Uncategorized — udee @ 2:48 pm

“satu bulan saja, kenapa tidak kau pikirkan untuk melanjutkan hubungan ini?”

Itu permintaan yang berat buat saya. Satu bulan itu sama artinya dengan menyiksa diriku sendiri, juga menyiksa dirinya. Hubungan ini hanya saling menyakiti satu sama lain. Aku sudah katakan pada dia, aku tidak bisa. Dan tidak bisa dibiarkan seperti ini dan berlanjut terus. Apa dia tidak memikirkan apa yang aku rasakan. Apa dia juga tidak memikirkan bagaimana perasaan dia sendiri, hancur berantakan. Padahal dia tahu dengan jelas, menata hatinya itu lebih sulit bagi dia. Aku harus meninggalkan dia,membiarkan dia tenggelam dengan kekecewaan.  Aku tak berkata apa-apa. Aku terus melangkah, dan terus berusaha tidak peduli dengannya. Sebentar aku menoleh ke arahnya. Ia masih menunduk, menahan air mata mungkin. Sudah lah, ini untuk kebaikan dia juga.

Lusa, setelah saya membiarkan dia sendiri.

– Danu, kita ketemu di Kafe Pojok 1 jam lagi –

Aku tahu betul, kalau sudah sesingkat itu smsnya. Itu sama artinya dengan serius. Aku tak bisa untuk menolaknya, tapi aku juga tidak tahu harus menemuinya dengan cara bagaimana. Berbicara dengan cara apa lagi, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku harus menemui dia. Aku harus ada untuk dia. Aku harus tetap berkomitmen bahwa dalam keadaan apapun aku akan beri yang terbaik buat dia.

“Danu….” Dia tampak lebih ceria, menghampiriku yang sudah menunggunya sejak lima menit yang lalu. Mungkin dia sudah bisa menerima apa yang aku putuskan untuk hubungan kami. Tak pernah aku melihat senyum yang begitu indah dalam tiga bulan terakhir ini. Aku sedikit lega, tapi tak bisa ditutupi kalau aku masih mereka-reka apa yang ada di dalam pikiran dia.

“Shinta, ada apa?” aku berusaha untuk bersikap santai juga, tapi tidak bisa.

“terima kasih Danu, apa yang kamu putuskan kemarin itu adalah kebahagiaan buat aku. Kamu memang selalu bisa memahami aku. Aku senang punya kamu di dekat aku. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku meragukan pacarku sendiri. Dia tidak seperti yang aku lihat, aku terlalu menaruh curiga terhadapnya. Kalau aku masih meneruskan dan memaksa kamu untuk menjadi pacar pura-pura saya, yang ada aku akan terus mencari momen bagaimana caranya Yoda juga merasakan cemburu, dan  aku tidak akan pernah memutuskan untuk membuka komunikasi dengan Yoda, pacarku”

Ada perasaan senang yang bisa aku lihat dari wajah Shinta, ia sangat bersemangat. Semangat itu sama dengan ketika ia untuk pertama kalinya diajak kencan dengan Yoda, pria yang sangat ia kagumi.

“Dan… semuanya salah paham Danu, gadis itu bukan selingkuhan Yoda. Dia adalah sepupunya, dan aku sudah dikenalkan kemarin. Danu, aku berterima kasih karena kamu tidak ingin melanjutkan apa yang kita jalani selama tiga bulan ini”

“aku yang traktir ya Danu!” aku lega mendengarnya, dia sudah kembali. Hancur buat aku, tapi setidaknya ini yang terbaik buat kami. Dia meraih kebahagiaan dia. Dan saya, menjadi sahabatnya itu jauh lebih baik buat saya.

April 3, 2012

Penulis Amatir, Penulis Labil

Filed under: Uncategorized — udee @ 2:48 pm

Lah, bagaimana tidak amatir. Tulisannya kacau, berantakan, dibaca alhamdulilah, sekedar dilihat judulnya juga alhamdulilah. Itu penghargaan buat penulis amatir ini. Tema ndak jelas, ndak fokus, melebar, payah parah banget! Sukur2 antar paragraf bisa nyambung, parahnya kalau paragraf 1 baru nyambung ke paragraf terakhir. Bahsanya tidak EYD, hahahaha. Amatir kan??

Eh, labil gila. sebentar nulis, sebentar tidak. Ya mau gimana lagi, namanya juga amatir, ada ide nulis, walaupun kacau tak berangkai. Tak ada ide nulis, ya gigit jari. Untungnya jari masih utuh. Lengkap 10, 5 di tangan kanan dan 5 tangan kiri.

Dan pembaca yang budiman, yang sibuk banget tapi masih sempat browsing, yang lagi makan tapi masih gak fokus ma nasi, yang lagi maaf, boker, tapi masih buka situs ini. Sang penulis amatir, sang penulis labil, mencoba nge-blog lagi. For your info, blog ini sempat lenyap, password lupa. Selain amatir dan labil, ternyata saya pelupa akut.

Sambil dengerin lagu “This Is My Now”, saya nyatakan blog ini masih dibuka untuk umum, dan bisa dibaca siapa saja, tak terkecuali bapak Presiden. Happy Reading (again and again, BASI)

December 28, 2009

Emak, mimpi itu masih ada!

Filed under: Uncategorized — udee @ 3:22 am

Orang-orang seperti kita akan mati kalau tak punya mimpi. Sepenggal kalimat ini tak jauh berbeda dengan kekuatan jargon sebuah produk motor: THE POWER OF DREAM!

1990-an

Inilah mimpiku waktu kecil dulu:

Waktu itu masih senja,  di teras rumah ibu dan aku duduk bersama. Aku lupa waktu itu kelas berapa, antara kelas 1 sampai 3 SD mungkin. Aku (mungkin) lelah dengan posisi duduk di atas bale-bale. Aku rebahkan kepalaku di pangkuan ibu-ku. Enak sekali rasanya, hampir tertidur aku. Tangan ibuku sangat menggangguku, aku tidak ingin terlelap. Dan usapan tangan ibu di rambutku membuatku semakin nyaman dan mata mulai tertutup. Seakan mau tidur. Alhamdulilah, suara ibu memecah belaian tangan di rambutnya, aku terkaget.

“masih ingin tinggal di Jakarta?”

Aku selalu bergairah membicarakan kota besar itu. Aku tidak tahu banyak soal Jakarta, yang aku tahu itu adalah kumpulan orang kaya. Itu adalah ibu kota negaraku, Indonesia.  Dan Jakarta, sangat jauh sekali dengan tempat aku tinggal: Pamekasan, Madura. Kota pusat Eks.Karesidenan Madura, dan aku bangga ketika itu dengan adanya kantor Eks.Karesidenan di kotaku. Setidaknya, aku anggap ini sebagai Ibu Kota Madura. Tak jauh beda dengan Jakarta, sama-sama ibu kota bukan?

“pasti bu’, aku akan kerja di sana, dan aku akan bawa ibu ke sana. Aku juga akan cari istri orang sana” aku girang menjawab pertanyaan ibu. Ketika itu aku g peduli dan tidak mempertanyakan kenapa tiba-tiba ada pertanyaan itu. Yang aku tau, pertanyaan itu tidak menjadikan ku tertidur.

2009

Ibu, menembus Jakarta ternyata tidak semudah bayanganku ketika kecil dulu. Hanya sekali memang aku berusaha menembusnya, tapi aku yakin kesempatan itu akan datang lagi ibu.  Jakarata itu besar ibu, aku naik busway di sana. Hebat sekali, tak ada kendaraan seperti ini di kabupaten kita. Bahkan di Surabaya sekali pun ibu. Aku senang melihat mereka berjalan cepat menyusuri jembatan jembatan halte busway. Mereka hebat-hebat ibu. Aku senang berjalan cepat seperti mereka. Dan aku ingin menjadi bagian dari pemandangan itu ibu, orang-orang yang berjalan cepat di tiap sudut Jakarta. Doakan!

November 14, 2009

Sebuah Ketakjuban terhadap Mahasiswa-mahasiswa yang Berkegiatan

Filed under: Life and I — udee @ 6:31 am

Aku tidak tiba-tiba berdiri di depan kampus UK PETRA. Pekerjaan juga yang membawaku ke sini, masih terlalu abstrak. OK, aku naik angkot kemudian becak untuk menginjakkan kakiku di depan kampus itu. Aku takjub bisa melihat kampus lagi. Aku semakin takjub begitu menyadari bahwa apa yang akan aku lakukan sesaat setelah berdiri di depan kampus ini adalah melihat para mahasiswa berkegiatan.

Tak kurang dari satu menit saja aku menatapi gedung kampus itu, bukan karena aku tidak lagi menjadi takjub, tapi dikarenakan klakson mobil. Setelah agak menepi, baru saya bisa melihat secara utuh bagaimana kaca pintu mobil yang terbuka perlahan memperlihatkan wajahnya. Waw…. cantik juga sopirnya (siapapun itu, yang berada di belakang kemudi mobil disebut sopir bukan? Ralat jika salah). Seeprtinya dia bukan sopir sembarangan. Dia masih muda, bermata sipit, rambutnya kira kira sebahu dan lurus, asli bukan karena rebounding (seolah-olah aku tahu apa bedanya). Sepertinya dia mahasiswa, tak ada tampang penjaga kantin apalagi dosen.

Tangan perempuan itu meraih kertas yang keluar dari sebuah mesin, aku tidak tahu bagaimana mengistilahkannya. Aku sebut mesin itu sebagai tukang parkir otomatis. Rasanya setelah perempuan itu menyobek kertas, baru lah plang-nya terbuka dan mobilnya dengan leluasa memasuki area parkir kampus. Berbeda sekali dengan sistem parkir di kampus-ku dulu. Mataku masih jeli dengan mobil yang tadi me-nglaksoni-ku. Warnanya silver. Dan ia mulai bergabung dengan yang lainnya di parkiran. Mobil semua. Sekali lagi, ini pemandangan yang berbeda dengan kampusku dulu.

 

OK, lupakan parkiran dan perempuan itu.

Aku ingin segera menakjubi para mahasiswa yang berkegiatan dan bagaiamana aku bekerja di kampus ini.

 

Tempat aku bekerja hari itu ada di lantai 5. Seperti yang ada di bayanganku, pasti letaknya tidak jauh dari acara seminar mahasiswa Petra ini (bayangan yang bodoh, kantorku adalah salah satu pihak sponsor dari acara seminar itu, tentu saja tempatnya tidak jauh-jauh dari situ). Ya, bayangan bodoh itu benar 100%. Tempat yang diberikan pada kami untuk Open Table berdekatan dengan pintu masuk peserta seminar. Semoga pesertanya rame, harapku waktu itu biar aku gak seperti kambing congek di situ.

 

          ”Ehm… mas, butuh apa lagi? Colokan listriknya kurang mungkin” Pertanyaan ini hampir senada dengan pertanyaanku dulu ketika menjadi mahasiswa dan menghadapi pihak sponsorship, dengan harapan next program dia mau mensponsori lagi.

           ”Eh… ditunggu sebentar ya mba’, soalnya OB saya belum datang, dialah yang membawa barang-barang dari HO”

           ”Ok, kalau ada kebutuhan apa-apa, hubungi kami saja”

Aku cuma bisa membalas dengan senyuman paling pahit.

            ”Mba’ sorry….” Aku menghentikan langkahnya yang beranjak pergi dari meja ku.

            ”ACnya minta tolong dinyalakan, biar g useless” ternyata udara sumpek yang membuat saya tersenyum pahit. Tempat saya bekerja ketika itu memang berdekatan dengan pintu masuk peserta, tapi lorong menuju pintu itu tak selebar lobby kantorku. Terasa sumpek jadinya, ditambah lagi dengan panitia yang berlalu lalang.

 

Panitia

Waktu yang molor, rasanya tidak perlu aku takjubi. Sama saja. Yel yel sebelum acara dimulai, sudah biasa ku lewati juga. Atau mungkin panitia yang mencoba lebih serinig muncul di dokumentasi acara. Sudah biasa ku temukan juga.

 

Satu hal yang bikin aku cemburu. Sebelum acara dimulai, panitia sibuk memasang kotak kecil hitam di bagian belakang tubuh mereka, ada yang di saku belakang celana, ada juga yang menempatkan kotak hitam itu di jalur sabuk (apa sih namanya). Setelah merasa nyaman dan memastikan kotak itu tidak akan jatuh, mereka mulai sibuk dengan kabel hitam dari kotak itu, dan memastikan kabel itu menempel di kepala mereka, tepatnya di telinga dan di daerah pipi hampir ke mulut.

”check….. check… halo? Gimana? Jernih” satu mahasiswi mencoba kecanggihan alat itu.

Sementara beberapa mahasiswa yang letaknya sekitar 100 meter dari mahasiswi tadi langsung merespon dengan acungan jempol. Parah! Kompak sekali! Respon mereka sepertinya menunjukkan kalau alat itu bekerja dengan baik.

Gila!!! Alat ini adalah impian-ku dulu untuk bisa berkomunikasi dengan panitia-panitia yang lain tanpa harus teriak-teriak.

Dan ini lah ketakjubanku berikutnya. Kostum panitia. Membicarakan soal kostum akan menjadi selalu menarik, dahulu, tim kepanitiaanku selalu nyantai, cukup kaos oblong, kalo terlalu resmi, ok lah pakek Almamater. Dan ini lah mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang di hadapanku ketika itu. Para mahasiswa berpakaian resmi sebagaimana pakaian kantor-ku tiap hari senin sampai dengan jumat, lengkap juga dengan dasinya. Dan satu lagi yang tak pernah ku kenakan di kantor: Jas (bukan Jas Almamater). Dan begini mahasiswi-mahasiswinya: pakaian berkrah, tanpa motif apa pun, dan blazer. Di antara mereka ada yang mengenakan rok, ada juga yang mengenakan celana. Dan para perempuan itu tampak bersemangat dengan langkah mereka yang cepat dan tegas. Ada semangat di setiap langkah para perempuan itu. Perfect!!

 

Jauh di antara pekerjaanku yang membosankan hari itu, ada kegembiraan yang jauh lebih besar dengan melihat berbagai ketakjuban dari kegiatan mahasiswa tersebut. Dan walau bagaimana pun, aku layak berterima kasih pada pekerjaanku yang pada hari itu sangat membosankan. Kalau tidak ada semangat para mahasiswa itu, aku pasti akan lebih memilih di kantor saja. Lebih produktif.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.