Orang-orang seperti kita akan mati kalau tak punya mimpi. Sepenggal kalimat ini tak jauh berbeda dengan kekuatan jargon sebuah produk motor: THE POWER OF DREAM!
1990-an
Inilah mimpiku waktu kecil dulu:
Waktu itu masih senja, di teras rumah ibu dan aku duduk bersama. Aku lupa waktu itu kelas berapa, antara kelas 1 sampai 3 SD mungkin. Aku (mungkin) lelah dengan posisi duduk di atas bale-bale. Aku rebahkan kepalaku di pangkuan ibu-ku. Enak sekali rasanya, hampir tertidur aku. Tangan ibuku sangat menggangguku, aku tidak ingin terlelap. Dan usapan tangan ibu di rambutku membuatku semakin nyaman dan mata mulai tertutup. Seakan mau tidur. Alhamdulilah, suara ibu memecah belaian tangan di rambutnya, aku terkaget.
“masih ingin tinggal di Jakarta?”
Aku selalu bergairah membicarakan kota besar itu. Aku tidak tahu banyak soal Jakarta, yang aku tahu itu adalah kumpulan orang kaya. Itu adalah ibu kota negaraku, Indonesia. Dan Jakarta, sangat jauh sekali dengan tempat aku tinggal: Pamekasan, Madura. Kota pusat Eks.Karesidenan Madura, dan aku bangga ketika itu dengan adanya kantor Eks.Karesidenan di kotaku. Setidaknya, aku anggap ini sebagai Ibu Kota Madura. Tak jauh beda dengan Jakarta, sama-sama ibu kota bukan?
“pasti bu’, aku akan kerja di sana, dan aku akan bawa ibu ke sana. Aku juga akan cari istri orang sana” aku girang menjawab pertanyaan ibu. Ketika itu aku g peduli dan tidak mempertanyakan kenapa tiba-tiba ada pertanyaan itu. Yang aku tau, pertanyaan itu tidak menjadikan ku tertidur.
2009
Ibu, menembus Jakarta ternyata tidak semudah bayanganku ketika kecil dulu. Hanya sekali memang aku berusaha menembusnya, tapi aku yakin kesempatan itu akan datang lagi ibu. Jakarata itu besar ibu, aku naik busway di sana. Hebat sekali, tak ada kendaraan seperti ini di kabupaten kita. Bahkan di Surabaya sekali pun ibu. Aku senang melihat mereka berjalan cepat menyusuri jembatan jembatan halte busway. Mereka hebat-hebat ibu. Aku senang berjalan cepat seperti mereka. Dan aku ingin menjadi bagian dari pemandangan itu ibu, orang-orang yang berjalan cepat di tiap sudut Jakarta. Doakan!
seorang teman pun mendoakanmu dari sini…
mimpi itu sedang dipeluk Tuhan, dan menunggu waktu yang tepat untuk dilepaskan..;)
Comment by fay — January 14, 2010 @ 8:43 am
dan Tuhan tidak pernah salah dlam hal waktu, aku percaya itu…
Comment by yudi — January 17, 2010 @ 12:35 pm
halo bembi….
gamana kabar kamu, wah senang sekali baca posting kamu yg ini…
bem, km tw ga, aku pnh bc buku psikologi, katanya anak kecil atw terutama befoe 7 years itu selalu bisa membuat scriptnya sendiri untuk kehidupannya. Jadi katanya nih, kl seandainya kita berfikir spt itu d wkt kecil, pst yg tejadi jg spt itu…
amin…
terus bjuang bembi…
Comment by niar — January 29, 2010 @ 5:55 am
amin niar……
Comment by udee — February 2, 2010 @ 1:02 pm
tapi jakarta adalah kota dengan kemunafikan Bang…aku gak yakin apa bisa seorang seperti kita yang jauh dari lingkungan kayak gitu bisa hinggap di jakarta…mampir2 ke blogq bang
Comment by rizal — February 5, 2010 @ 10:01 am
hmm…
dia senang melihat dia melewati jalan penuh kabut pula ilalang…
dia senang melihat dia masih pukul 8 pagi…
dia senang melihat dia berada di tanah awaj…
dia melintasi bias de anonymous…
muatan: sungguh mimpi anak yang akan memiliki kisah mendekati 0
Comment by bias de anonymous — March 11, 2010 @ 6:33 am
be careful of what u wish for; it may granted when u no longer want it…
Comment by dya — May 29, 2010 @ 3:58 am
wish your dream comes true…
nyari istrinya orang jakarta apa orang PNS mas bem?! hehehehe *mulai iseng*
Comment by Pamela Salyka — July 30, 2010 @ 5:48 pm