Masih ingat kawan? Ketika dengan nomer baru, kau mencoba membuatku penasaran. Kau bilang kau perempuan paling cantik di Jember. Oleh karena itu, akhirnya ku simpen nomer itu di dalam phonebook-ku dengan contact name Ms. Jember. Aku lupa kata-kata apa yang aku baca dari nomer “pakai-buang”mu itu, tapi satu hal yang aku inget: dari kata-kata yang ada di sms itu, aku begitu yakin pemiliki nomer baru itu adalah Lula teman-ku, kamu! Aku bilang, hanya kamu lah yang memiliki kata-kata yang “wah” banget dan cukup untuk membuatku berpikir untuk mencari makna di dalam kalimatmu.
Males, aku akhiri. Menjelang tidur Ms. Jember muncul lagi.
- Masih penasaran kah kau? -
- Sepertinya, kau lah yang penasaran apakah aku masih penasaran atau tidak! – itu balesan-ku
Dan sms kita menjelang tidur itu tidak pernah terlepas dari kata-kata “penasaran” hingga mbulet yang entah mengandung makna apa.
Lul, lu inget?
***
Kau hapus blog-mu,
Aku protes, aku rindu membacanya
Kau bilang kau cacat dalam menulis,
Tapi tidak bagiku
Menguraikan kata cacat pun kau masih sehat
Buktinya, aku tertarik untuk menulis ini
Lula, kau pertanyakan untuk apa kamu menulis? Kenapa tidak kau jauhkan saja pikiran kamu bahwa tulisanmu hanya untuk mengumbar rasa agar pembacamu tau kehidupanmu dan ber-empati padamu. Kenapa tak kau pikirkan saja bahwa kau tersenyum ketika mulai menggerakkan tanganmu dan menulis tulisan “menye-menye” yang kau maksudkan. Atau kau menangis ketika kau berhadapan dengan laptop-mu lalu menulis. Atau kau marah ketika kau menulis. Bahwa kau PUAS ketika melakukan pekerjaan menulis.
“Mungkin sudah saatnya aku hanya diam, belajar mendengar, menjadi penonton” seperti itu kau bilang. Itu kah yang kau tau sekarang? Tak tau kah kau ada juga orang lain, bahkan yang tak mengenal mu sekalipun, ingin belajar mendengar dari mu. Ingin belajar menjadi penonton apa-apa yang kau tulis.
Lul, apa yang sebenarnya membuat kamu cacat? Apakah benar pandanganku bahwa kamu telah terjebak dalam pandangan “penulis blog adalah kumpulan orang yang ingin dan mencari perhatian? Aku sedih jika itu benar. Atau… kau memang menulis hanya, benar-benar, agar mendapatkan perhatian? Aku semakin sedih jika itu benar. ANDAIPUN kedua asumsiku benar, apa salahnya jika itu kau jadikan bonus saja atas kesenanganmu penulis. Ke-depan-kan saja pendapatmu bahwa menulis itu adalah pekerjaan mengasyikkan.
Lul, gw kangen ma tulisan “menye-menye” lu!
Kayaknya hebat ya temenmu itu?????
Comment by agus setya — June 11, 2009 @ 7:31 pm
hayo bem, sapa itu………..
Comment by niar — July 22, 2009 @ 2:00 am
seems like i know her… hohoho…
Comment by nizal — August 17, 2009 @ 6:18 pm