Sinetron Lorong Waktu sesungguhnya telah memberikan inspirasi yang begitu besar untuk mengenal-Mu lebih dekat. Kehadiran sosok Pak Haji membius saya untuk ingin mengenal-Mu lebih dekat lagi. Saya berangan-angan saya lah ustad Adin yang dibimbing sedari kecil olehnya. Dan saya lah Zidan yang sedari kecil menjadikan lingkungan masjid sebagai tempat bermain. Tapi saya gagal melewati masa itu. Saya habiskan masa kecil saya di sawah, di sungai, di jalanan, di halaman rumah, dan di depan TV.
Semakin bertambah usia semakin saya jauh dari Engkau. Saya tidak lagi dituntut untuk pergi ke madrasah atau ngaji di surau oleh orang tua. Tidak ada pukulan yang menanti saya ketika saya lebih ingin bermain daripada mengaji di surau. Tidak ada lagi gelitikan atau siraman air ketika saya pura-pura tidur untuk menghindari jam madrasah. Tuhan, saya dianggap dewasa. Dan saya tidak selalu mendekati keikhlasan ketika menemui-Mu. Bersedih hati? Iya. Tapi tetap saja tidak ada tumpuan, saya kehilangan “lorang waktu” saya.
Tuhan, katanya saya dewasa. Tapi saya takut untuk membuka diri dan (kembali) ikhlas mengenal-Mu. Saya menutup diri terhadap diskusi-diskusi keagamaan dengan kawan-kawan kampus yang kesehariannya sudah menjadikan lingkungan masjid sebagai tempat “bermain”. Pandangan saya terlalu ekstrim tentang mereka, tapi begini lah adanya, apa yang saya rasakan. Bagi saya, mereka memiliki kecenderungan yang besar untuk melihat benar dan salah dari sisi agama. Saya menghindari menjadi seperti itu Tuhan. Ada banyak kaca mata yang seharusnya bias digunakan, karena saya hidup di dunia yang engkau ciptakan dengan berbagai karakter manusia yang berbeda-beda.
Tuhan, entah sudah berapa nikmat yang saya abaikan. Segala kelancaran dan kemudahan dari Engkau saya anggap sebagai sesuatu yang hambar, tak ada tantangan, Astaughfirullah. Entah sengsara apa saja yang telah saya abaikan tanpa mengambil pelajaran untuk memperbaiki diri. Semua terlewatkan begitu saja. Tuhan, segala yang telah lewat dalam hidup saya adalah skenario-Mu. Dan di balik semua skenario itu sungguh tak ada sebuah penderitaan yang harus diratapi. Subhanallah, selalu ada hikmah dari setiap apa yang Engkau putuskan.
Dan saya merindukan lorong waktu saya. Saya membayangkan kembali sosok pak Haji yang saya harapkan mampu untuk tidak menjadikan saya seperti itu, selalu dan selalu menggunakan agama untuk mengatakan benar dan salah, namun tetap mengenal-Mu dengan baik. Dan Insya Allah saya menemukannya, dan akan menemukannya lagi, Amin. Terima kasih Tuhan, Engkau tidak akan pernah lepaskan bimbingan-Mu terhadap umat-Mu ini.
kenapa harus menggunakan tangan orang lain untuk menyentuh Tuhan?, kenapa menunggu sosok p.haji untuk mengantarkan anda ke rumah-Nya?, menurut saya, Tuhan termasuk dalam ranah paling pribadi dari kita semua…, kenapa malah membuka wilayah itu untuk ‘diinvasi’ oleh orang lain?
Ps: komentar anda kok tidak terlihat di blog saya?
Comment by simplyrealist — December 25, 2008 @ 7:23 am
Jawaban untuk PS anda Simplyrealist:)
saya tidak bisa mengirimkan komen, mungkin anda perlu merubah settingan anda, mungkin atau saya yang sok tahu ya???
Karena Tuhan berada dalam ranah paling pribadi dari kita lah, saya membutuhkan sosok pak haji. Kita, penuh dengan sifat egois, bisakah kita menepis ego duniawi dan mnengambalikan smua kepadaNya??? saya tidak, dari itu lah saya membutuhkan orang lain.
dasar dehumanisasi!:P kalau anda lebih sukan kata menginvasi, saya ikuti. Orang laen menginvasi saya kegagalan saya menepis ego saya….
Resmi banget ya bu’… semangat Lel!!
Comment by udee — December 26, 2008 @ 10:03 pm
tentang komen di blog saya. saya serahkan sama mas wordpress, tidak ada yang pernah saya sentuh. kalo komen anda g nyangkut, entahlah..
tentang p. haji. apa anda yakin p.haji/p.kyai/p.ustadz CS udah bisa ngelepasin ego mereka? kayaknya mustahil tuh. ego adalah sesuatu yang membuat kita disebut ‘MANUSIA’ bukan “MALAIKAT”.
kenapa tidak mencari jalan alternatif untuk merasakan sentuhan Tuhan???, (sesuatu yang juga saya lakukan sampai sekarang). bukankah Dia udah pernah state, Aku lebih dekat dari urat nadimu, gitu katanya…
Comment by simplyrealist — January 6, 2009 @ 5:47 am
Sya tidak yakin mereka sudah lepas 100% dari ego. sperti yg kmu bilang, ego yang membuat kita “MANUSIA”. But at least… saya punya teman berdiaalog yang notabene lahir terlebih dahulu, yang notabene jauh lama berkutat dengan egois dimiliki dibandingkan dengan saya.
SEsuatu?? sesuatu yang seperti apa? bisa diskusi lebih lanjut bu’????
Comment by udee — January 6, 2009 @ 10:18 am
terlepas dari egosentris manusia, saya kira kita juga butuh medium untuk menyentuh Tuhan, entah itu lewat pak haji atau apapun. sepakat dengan udee, saya juga tidak mengerti maksud simplyrealist yang menyatakan mengenai jalan alternatif. pabila yg dimaksud jalan alternatif itu adalah berjalan dan menginterpretasikan sendiri, memang kita memiliki hak untuk itu. namun untuk berjalan sendiri pun kita perlu belajar terlebih dahulu, merangkak terlebih dahulu. dan pada proses itulah dibutuhkan yang namanya medium….
Comment by dyananda — January 20, 2009 @ 2:19 am