Just Another Way to Send Out My Mind

December 25, 2008

Surat untuk Tuhan

Filed under: Uncategorized — udee @ 7:12 am

Sinetron Lorong Waktu sesungguhnya telah memberikan inspirasi yang begitu besar untuk mengenal-Mu lebih dekat. Kehadiran sosok Pak Haji membius saya untuk ingin mengenal-Mu lebih dekat lagi. Saya berangan-angan saya lah ustad Adin yang dibimbing sedari kecil olehnya. Dan saya lah Zidan yang sedari kecil menjadikan lingkungan masjid sebagai tempat bermain. Tapi saya gagal melewati masa itu. Saya habiskan masa kecil saya di sawah, di sungai, di jalanan, di halaman rumah, dan di depan TV.

Semakin bertambah usia semakin saya jauh dari Engkau. Saya tidak lagi dituntut untuk pergi ke madrasah atau ngaji di surau oleh orang tua. Tidak ada pukulan yang menanti saya ketika saya lebih ingin bermain daripada mengaji di surau. Tidak ada lagi gelitikan atau siraman air ketika saya pura-pura tidur untuk menghindari jam madrasah. Tuhan, saya dianggap dewasa. Dan saya tidak selalu mendekati keikhlasan ketika menemui-Mu. Bersedih hati? Iya. Tapi tetap saja tidak ada tumpuan, saya kehilangan “lorang waktu” saya.

Tuhan, katanya saya dewasa. Tapi saya takut untuk membuka diri dan (kembali) ikhlas mengenal-Mu. Saya menutup diri terhadap diskusi-diskusi keagamaan dengan kawan-kawan kampus yang kesehariannya sudah menjadikan lingkungan masjid sebagai tempat “bermain”. Pandangan saya terlalu ekstrim tentang mereka, tapi begini lah adanya, apa yang saya rasakan. Bagi saya, mereka memiliki kecenderungan yang besar untuk melihat benar dan salah dari sisi agama. Saya menghindari menjadi seperti itu Tuhan. Ada banyak kaca mata yang seharusnya bias digunakan, karena saya hidup di dunia yang engkau ciptakan dengan berbagai karakter manusia yang berbeda-beda.

Tuhan, entah sudah berapa nikmat yang saya abaikan. Segala kelancaran dan kemudahan dari Engkau saya anggap sebagai sesuatu yang hambar, tak ada tantangan, Astaughfirullah. Entah sengsara apa saja yang telah saya abaikan tanpa mengambil pelajaran untuk memperbaiki diri. Semua terlewatkan begitu saja. Tuhan, segala yang telah lewat dalam hidup saya adalah skenario-Mu. Dan di balik semua skenario itu sungguh tak ada sebuah penderitaan yang harus diratapi. Subhanallah, selalu ada hikmah dari setiap apa yang Engkau putuskan.

Dan saya merindukan lorong waktu saya. Saya membayangkan kembali sosok pak Haji yang saya harapkan mampu untuk tidak menjadikan saya seperti itu, selalu dan selalu menggunakan agama untuk mengatakan benar dan salah, namun tetap mengenal-Mu dengan baik. Dan Insya Allah saya menemukannya, dan akan menemukannya lagi, Amin. Terima kasih Tuhan, Engkau tidak akan pernah lepaskan bimbingan-Mu terhadap umat-Mu ini.

Blog at WordPress.com.