Just Another Way to Send Out My Mind

November 19, 2008

Global Warning

Filed under: Uncategorized — udee @ 12:57 am

Ketika itu, perlahan saya ngebuka mata, kedua mata saya. Kemudian meregangkan otot-otot kaki sebentar. Menutup mata lagi, lalu membukanya. Saya lalu menutup mata lagi. Tutup lagi. Buka. Tutup. Buka. Tutup. Akhirnya saya lelah, dan membiarkannya terbuka. Giliran kedua tangan saya yang saya regangkan. Saya mencari handphone saya.

06:48 p.m.

Ha? Masa’ iya sudah jam segini? Saya ambil lagi handphone yang baru saya letakkan di atas kursi yang saya sulap jadi meja. Saya fokuskan penglihatan di pojok kanan atas layer handphone saya.

06:49 p.m.

Beneran!

Saya lirik lelaki yang tertidur pulas di samping saya. Lalu berpikir: ya Tuhan, maksiat apa yang telah kami lakukan? Ampuni dosa saya! Pembaca yang baik hati, stop berpikiran macam-macam. Bukan itu yang saya pikirkan. Melihat teman sekamar saya yang tertidur pula situ, saya berpikir heran: “Koq dia tidak membangunkan saya untuk sholat maghrib? Biasanya paling cerewet kalau soal sholat!”

Beberapa menit kemudian, dia terbangun. Wajahnya seperti orang baru bangun tidur, goblok! Ya iya lah, dia emang lagi baru bangun tidur.

“Koq saya tidak dibangunin untuk sholat maghrib?” saya membuka percakapan.

Aneh. Bukannya menjawab, dia malah memasang wajah bingung. Sampai-sampai aku heran tuk kedua kalinya: ni anak baru bangun tidur atau baru sadar dari pingsan pasca minum racun tikus sih? Dia masih bingung, hingga akhirnya ngejawab:

“Saya juga ketiduran…” dengan wajah melas dan bingung seakan-akan bilang koq saya masih hidup ya?

***

Pukul 5 sore lewat dikit, mata saya berasa ngantuk dan ingin tidur rasanya. Maghrib 30 menit lagi, tapi saya ingin tidur. Keinginan saya begitu kuat hingga akhirnya badan saya sudah saya rebahkan di kasur. Lalu…

“Mas, udah mau maghrib, gak baek tidur. Mending nunggu maghrib dulu.” Makhluk cerewet itu mulai ngomel. Saya ingin tidur. Saya paling jago tidur dalam waktu yang sebentar (asalkan diniatkan bangun atau dibangunkan, hehe). Terlalu penat saya, dan saya tidak mengindahkan kata-katanya, saya terlelap. Tidur, hingga saya menemukan fakta bahwa si penasihat juga tertidur.

Mengingatkan kepada yang lupa, dan juga mengingatkan kepada diri sendiri. Ini dia kata-kata ampuh para pemberi wejangan jaman dulu, dan masih dipakek sampe sekarang. Teman saya mengingatkan kepada saya, saya mengabaikan, dan teman saya pun mengabaikan peringatan yang seharusnya juga ditujukan untuknya. Kata-kata ampu itu sudah mengglobal, biar agak keren dan sama dengan isu global warming, tidak masalah toh kalo saya menyebutnya sebagai global warning. Karena pengabaian global warning itu, kami rugi, magrib dilewatkan. Selamat!

Global warning atau pun local warning, tetap saja pengabaian warning yang saya dan teman saya lakukan mengingatkan kembali kepada kita akan pepatah lain:

1. Lihat apa isi dari yang disampaikan orang yang berbicara, jangan lihat siapa yang berbicara; dan

2. Sebelum mengeluarkan warning untuk orang lain, warninglah diri sendiri terlebih dahulu.

Akhir kata, jangan abaikan warning dan jangan asal meyebarkan warning. Selamat berwarning ria.

PS: Kejadian pengabaian yang kami alami tepat pada hari Minggu kemarin.

November 15, 2008

Kejuaraan Bola Voli Yunior ASEAN [di Jember]

Filed under: Uncategorized — udee @ 4:37 am

“Maya…… I love you….. Bibeh!” Andai saja waktu final putri saya sudah mendekati lapangan, saya pasti berteriak seperti itu, siapa tau Maya noleh, dan bilang “I Love you too bibeh….” Huek, gak mungkin! Ok lah kalau gak mungkin, siapa tahu ketika berteriak seperti itu backsound waktu time out diganti lagu The Changcut, sumpah saya nyesel gak jadi nonton konser The Changcut bulan lalu. Berhubung saya gak bawa kamera digital, tepatnya gak punya kamera digital, saya gagal mem-foto Maya (Bukan Maya estianti, tapi Maya Kurnia Indri Sari).

Ok, cukup mengharapkan Maya dengan “I Love you too bibeh”nya! Langsung ke poin atau dengan bahasa gaulnya tapi udah jadul: To the Point. Jadi, Kejuaraan Bola Voli Yunior ASEAN 2008 diadakan di Indonesia, tepatnya di Jember, hebat kan? Agar tampak lebih hebat, GOR Kaliwates dipugar abis, sampek kelihatan necis! “Sih… ma’ gaya” mungkin ada warga Jember yang berkomentar seperti itu. Dalam kejuaraan internasional ini, negara ASEAN yang absen dan cukup diperhitungkan di dunia per-voli-an adalah Malaysia dan Singapura (kayaknya mereka gengsi dateng ke Jember, Indonesia). Thailand, Vietnam, Myanmar, Brunei darussalam dan Indonesia adalah negara-negara ASEAN yang berlaga dalam kejuaraan ini. Satu… Dua… Tiga…. Empat! Makin hebat aja Jember, ada warga asing dari empat negara yang berlaga di GOR Kaliwates. Selamat Pak!

Kejuaraan ini dimulai sejak tanggal 9 November kemaren. Dan Kemaren, 14 November 2008, digelar final putra dan putri, perebutan juara I dan II untuk tim putra dan putri sama-sama diikuti oleh Indonesia dan Thailand. Saya begitu antusias dengan berita ini, dan memang sudah saya niatkan kalau akan rela ke GOR jika negaraku tercinta ini masuk babak final. Ehem…. Hujan hampir menggagalkan saya lagi. Tapi tekat sudah bulat, saya tidak ingin menyesal lagi setelah gagal nonton The Changcut gara-gara hujan. Demi bangsa tercinta, saya rela cari tebengan, hehehe… dapet! temen kos! hehehe…

Busyet…. GOR rame sekali, penonton sudah banyak yang didalem, dan di pintu masuk berdesak-desakan, so… saya masuk tanpa karcis. Demi mendukung bangsa tercinta saya rela melanggar aturan: masuk tanpa karcis. Suasana pertandingan sudah bisa saya rasakan ketika udah mendapat tempat yang nyaman di tribun. Tim putri ketika itu, dan setiap kali mendapatkan poin saya berteriak “Auo……..” itu tarzan ding bukan saya. Pokoknya saya berteriak semampu saya, dan kayaknya “Auo….” memang pernah saya teriakkan di dalam GOR itu.  Putri Indonesia (bukan nadine, tapi Maya, hehehe, dan kawan-kawan) kalah dengan Putri Thailand (saya tidak kenal). Thai, awas lu ya…

Ba’da Magrib tim putra melawan Thailand, dan posisi saya sudah bergeser tepat di depan lapangan, berdekatan dengan ring basket. “Auo….” saya semakin leluasa. 

“Wow………………”

“Wow……………..”

“Auo ……………..” lagi

ketika tim Thailand melakukan kesalahan saya berteriak “Hwahahahaha………..”

Oh ya di setiap teriakan ada tepukan tangan saya, hingga…. benar-benar capek!

Set pertama, putra Indonesia kalah, set 2 dan 3 menang! Pada set keempat saya berharap Indonesia kalah, alasannya biar tambah seru aja di set kelima, jarang-jarang kan saya nonton kejuaraan internasional secara live, bukan di tipi! Doa saya tidak dikabulkan, set keempat putra Indonesia langsung menang. Walau doa tidak dikabulkan, saya ber”Auo….” dan ber”wow….” lagi! 

Saya puas sekali berada di dalam GOR itu. Berteriak sekuat-kuatnya, dan juga ngentut sekeras-kerasnya tanpa ada yang peduli, hwehehehe…. Selamat buat tim putra indonesia yang menjadi juara I. Hms…. Buat Maya dan kawan-kawan, selamat juga!

November 10, 2008

I Cried For My Brother Six Times

Filed under: Uncategorized — udee @ 5:02 pm

Ini bukan tulisan saya. Tanpa sengaja saya temukan di sebuah blog beberapa bulan silam di 2008, saya cari aslinya tapi tidak saya dapatkan.  Dianjurkan untuk dibaca, sangat!

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya merengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”

Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menjadi buah bibir orang?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?”

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

kidung.com

November 8, 2008

Hitung Cepat ala ***

Filed under: Free — udee @ 5:41 am

Sok tidak ingin menyebut merk, saya memberi tiga bintang untuk lembaga yang membawahi saya untuk melakukan hitung cepat pemilihan gubernur jawa timur. Lembaga yang wow… memberikan saya sebuah ID card bertuliskan lembaga terkenal itu dan sebuah nama televisi yang tidak mengenal sinetron pada setiap programnya. Lembaga yang memberi surat tugas “ehem…” cool banget! Dan lebih dari itu, memberi saya pengalaman!

Menurut kisah, saya tidak bisa hadir briefing dan pembagian logistik survei. Alhasil, saya anggap usaha menjadi bagian dari pemberitaan di TV gagal. Ok. Tidak masalah. Anggapan keliru. Perwakilan dari lembaga itu menelpon saya pada sore harinya. Ok, saya tetapa berkesempatan menjadi bagian dari pemberitaan di tv. Saya berhasil. Setelah mengusut tuntas, saya mendapat area Bangkalan. Saya baca lagi map hijau yang saya pegang. Kecamatan Kwanyar, deng…. “kalau tidak salah kecamatan ini berdekatan dengan tempat mas-ku tugas, Modung!” Desa? saya baca lagi, Duwak Buter! Nama yang aneh! itu nama makanan dalam bahasa madura. Tahu blueberry kan yang ada di minuman Pop Ice (Oopps… koq sebut merk? gpp lah sekali-kali). Kalau tidak salah, blueberry dan Duwak adalah jenis yang sama.

Siipp… tinggal kontak mas. Dan… Thanks God, area saya benar-benar bersebelahan dengan tempat dia bertugas menjaga kelancaran pilgub putaran ke-dua. Dan dengan aura ke-mas-annya dia mulai memperlakukan saya seperti adek kecilnya yang tidak tahu apa-apa, buta jalan, dan mungkin dia pikir saya buta huruf. Saya pikir juga tidak sejauh itu lah pemikirannya! Untuk diketahui, desa ini benar-benar desa, bahkan tak ada angkutan umum yang melewati jalanan di desa ini, tidak ada penunjuk jalan, sebagian besar jalan yang saya lewati masih belum beraspal, dan kata penduduk sekitar, tidak ada penerangan sama sekali, jadi jikala malam tiba, halah….!!

Saya berasa menjadi orang penting: menuju ke TPS 4 Duwak Buter, dengan dikawal oleh seorang briptu. Sang briptu kembali ke tempat tugasnya, dan saya pun beraksi. Keanehan mulai kerasa waktu saya memperlihatkan lembar kontrol, di lembar ini lah ada tanda tangan Ketua KPPS (untuk kerahasiaan, saya tidak akan menjelaskan apa itu KPPS) plus dengan stempel. Dengan nada gurau, ketua KPPS bertanya “Berani bayar berapa nih untuk satu kali stempel?” dan saya hanya bisa “hehehehe…..”, dalam hati saya pengen bilang “G lucu mas, stempel wajah saya aja saya obaral!” Dan benar saja, si ketua tadi tidak bersedia menandatangani apalagi men-stempe-i lembar kontrol saya. “kami terikat aturan dengan KPU”. Saya agak ngotot dengan ketua itu. Dan ngotot saya sedikit reda ketika perwakilan PPK Kwanyar datang dengan penjelasan yang sama.

Ok. Kalian terikat aturan, dan saya juga terikat aturan. Bicaralah dengan koordinator saya! N 6030 saya sedikit ramai dengan suara bising koordinator saya dengan ketua itu. Percakapan berhenti, dan 6030 saya tersenyum lebar setelah ketua itu memberikan nomer 031 sekian-sekian kepada koordinator saya. Selang beberapa menit kemudian, saya menerima sms, yang intinya tidak masalah tidak dapat ttd dan stempel. Giliran saya tersenyum. Segala bentuk syukur, mulai dari Alhamdulilah sampai kaso’on saya ucapkan. Karena engkel-engkellan saya saat itu hanya bersisa satu setelah ada sms membahagiakan itu: engkel-engkelan dengan perut yang lapar. Tidak ada orang jualan. Roti dari panitia tidak mengenyangkan. Saya masih lapar. Dan baru kenyang setelah kembali ke Bangkalan, sekitar pukul 6 sore saya tiba di kamar TKMP (Tempat Kejadian Malam Pertama, masih ingat kan?). Selama tinggal di Bangkalan saya tidur di TKMP dan berhasil mengusir penganten baru itu ke kamar lain (ini sih malam kedua). Malam pertama saya di Bangkalan, saya menyelinap dan akhirnya tidur bareng semua di TKMP. Wakakakakkakakakakkk….. :D

Hasil Hitung Cepat ***

1. Desa Duwak Buter: Kaji 55 suara, Karsa 209 Suara, suara tidak sah sebanyak lima.

2. Update terakhir dari ***: Kaji 50,44% ; karsa 49,56%; tingkat partisipasi:54,44%

Blog at WordPress.com.