Just Another Way to Send Out My Mind

October 23, 2008

Bernegosiasi dengan Bakteri

Filed under: Uncategorized — udee @ 3:34 am

Saya kaget, shock, terpontang-panting, hingga membentur tembok kamar ketika mendengar kabar kalau teman saya didiagnosis terkena penyakit TBC oleh salah seorang dokter. Seingat saya, penyakit ini disebabkan oleh makhluk ciptaan Tuhan yang paling meggeli: Bakteri. Bakteri apa? Jangan ditanyakan kepada saya, kemampuan saya untuk mengingat pelajaran biologi cukup sampai disitu. TBC disebabkan oleh bakteri, titik. Tapi tunggu, Mycobacterium tuberculosis. Para dedengkot bakteri ngasih nama bakteri penyebab TBC seperti itu. Saya menemukannya di web dinas kesehatan.

Di ruang tunggu poli paru, rumah sakit umum daerah Jember, waktu saya ngaterin teman saya mengembalikan tabung dahak dan mengambil foto plus hasil tes darah, kami bertemu dengan dokter muda, yang notabene kakak kelas saya semasa SMA. Di situ lah ingatan saya tentang TBC kembali tercerahkan. Awalnya, saya membuka foto paru-paru yang baru teman saya ambil. Pertanyaan pertama: ini foto sebuah paru-paru atau tulang rusuk? Gambar paru-paru dalam buku pelajaran biologi dulu sangat berbeda dengan apa yang saya lihat dari hasil ronsen. Agar tidak tampak terlihat bodoh, saya simpan pertanyaan pertama saya. Pertanyaan kedua: “Bakterinya mana mas?”. Lalu dia bilang “waduh…kalian kan tidak tahu? Ada perbedaan kesuraman dari foto paru-paru ini” Jawaban yang saya simpulkan adalah para dokter menyimpan rahasia yang tidak ingin pasien tahu. Bahkan untuk wujud bakteri sekalipun.

            “Nah, selain karena tertular, orang kena TBC itu gara-gara apa mas?” Bakteri itu bisa ada dimana-mana. Di jalan, di bus, di kamar kosan yang pengap, mereka hidup dimana-dimana. Jadi kita harus hati-hati. Yang paling bikin saya shock tanpa terpontang-panting adalah bakteri jahanam itu masuk ke tubuh kita melalui pernafasan. “Ya Tuhan, bahkan bisa bernafaspun, manusia tidak perlu bergembira dulu, ketika bernafas kita harus waspada dengan yang namanya bakteri itu, yang tinggal dimana-dimana!” Ketika sekelompok bakteri itu menjajah bumi, mungkin semua orang akan mengakhiri hidup. Percuma bernafas, yang kita hirup bakteri.

            Bakteri penyebab TBC ini termasuk yang aerob, simplenya gini: dia suka tinggal hidup di tempat yang ada oksigennya. Mengetahui ini, saya semakin ingin melihat wujud bakteri itu dan bilang ke dia “Wahai bakteri yang baik hati, kamu kan bisa tinggal di bumi dengan damai tanpa mengganggu manusia. Kalau misalnya, kamu merasa tingkat polusi bumi sudah akut, kamu tinggal di dalam plastik atau toples kue aja, para manusia yang rajin menabung pasti akan menyuplai oksigen buat kamu. Di situ kamu aman, kami pun aman. Peace….  Bakteri!”

            Saya kemudian tersadar oleh satu hal. Satu-satunya makhluk Tuhan yang diberi akal adalah manusia, kita! Ketika udah ada kata satu-satunya, itu artinya bakteri tidak punya akal. Yang dia tahu hanya lah mencari lubang hidung manusia lalu masuk ke paru-paru. Bernegosiasi dengan bakteri adalah hal yang sia-sia. Keinginan untuk berdialog dengannya saya urungkan saja. Bahkan melihat wujudnya saja saya ogah, yang ada dia malah mencari lubang hidung saya agar bisa endehoi dengan selingkuhannya di dalam paru-paru saya.

 

PS: Biar agak bermanfaat dikit, ada beberapa tips untuk menghindari rombongan bakteri yang ingin bertamu di dalam paru-paru kita: JANGAN BERNAFAS! Ok, lebih serius dikit. Jadi, kita mesti:

  1. Standar lah, hidup sehat!! Hindari rokok, makan makanan yang bergizi, isitirahat yang cukup, olah raga yang teratur, hindari alkohol, obat bius dan stress, hindari juga free sex, ancamannya lebih gede: HIV. Yang paling ngaco dan janga ditiru, bernafas sesekali saja!
  2. Bila batuk, mulutnya ditutup. Kalao ada orang ngentut, tutup hidung saja!
  3. Buanglah ludah pada tempatnya, jangan sembarangan!
  4. Lingkungan kita tinggal harus dirawat agar tetap bersih! Lakukan juga 3M, nyamuk demam berdarah sama-sama berbahanya!
  5. Vaksinasi pada bayi, berhubung kita udah gede, kita ga perlu berdoa pada Tuhan agar dijadikan bayi lagi, lalu dapat vaksin.

October 20, 2008

Pernikahan

Filed under: Life and I — udee @ 3:44 am

 

“Kapan di sini ada pesta?” Masih inget ma iklan dimana anak kecil mengharapkan keramaian di rumahnya? Iklan yang diakhiri dengan kata-kata yang kurang lebih seperti itu. Sebuah pesta. Sebuah perhelatan. Saya tidak ingat iklan apa tapi saya pernah mempertanyakan pertanyaan yang sama pada nyokap. Intinya: “Kapan di rumah ini ada pernikahan?” Yang lebih inti lagi: “Kapan mas nikah?” Gak mungkin saya mengharapkan ada pesta ulang tahun. Pesta semacam ini bukan kebutuhan primer untuk keluarga semacam keluarga saya.

Hati saya yang gundah gulana dan teriris perih menanti pesta akhirnya merekah kembali. Bulan agustus 2008, mas saya merencanakan untuk menikahi perempuan yang setelah ia gagahi selama kurang lebih tiga bulan, maksudnya yang ia pacarin, mas saya masih sangat bermoral, bahasa saya aja yang tidak bermoral. Seoran mas yang saya sayangi, cintai, dan hormati, serta yang selalu saya tunggu-tunggu kehadiran duitnya, hehehe.

 

Dan beginilah sibuknya saya:

7 Oktober 2008

Bertempat di rumah kami yang elok nan permai dan belum sempet dicet, di jalan Jokotole V/29 Pamekasan dengan kode pos 69321, terlaksanalah acara “selametan” pernikahan mas saya dan perempuannya. Ada tiga sesi, melelahkan! Pukul 11.00 acara untuk teman kantor bokap. Pukul 14.00, acara untuk teman se”kampung” mas saya. Pukul 19.00, ini lah acara puncak: ucapan doa bertalu-talu, bersenandung diantara para tamu yang notabene adalah tetangga dan keluarga, serta tusuk sate semakin berceceran dimana-mana. Dan dimana sibuknya saya? Dua acara pertama saya resmi sebagai penghitung jumlah tamu yang datangnya tidak selalu bersamaan, kemudian mengantarkan makanan, dan kena damprat ketika ada satu rombongan tamu yang lupa tidak diberi kerdus berisi kue. Istirahat bentar, saya malah mendapat jam lembur untuk beli rokok buat yang jaga parkiran kendaraan tamu. Harus sesuai dengan permintaan tukang parkir: “Sampoerna Mild 16, jangan lupa koreknya!” Acara malam hari, jabatan saya menjadi lebih terhormat. “Nerima tamu” tapi tetep aja pada akhirnya saya terlibat dalam mengantarkan makanan.

9 Oktober 2008

Akad nikah di Bangkalan (rumah perempuan). Skenario pertama saya tidak perlu ikut. Tapi, demi baju batik kembar yang saya beli, batik buat saya dan bokap, skenario berubah. Saya ikut. Sekedar ikut tanpa tahu saya mau ngapain disana. Benar saja. Setelah nyampe’ dan turun dari mobil saya heran mau ngapain, hampir semua seserahan sudah ada yang megang. Dan saya semakin takjub ketika satu-satunya seserahan yang tersisa adalah 50 Kg beras. Sialan!

Bokap emang super ngerti. Dia tidak akan ngebiarin anaknya yang udah kurus kering ini untuk mikul 50 Kg beras. Saya akhirnya didaulat membawa bed cover.

“De’, langsung dibawa ke kamar pengantin ya!” itu perintah langsung dari nyokap. Asoy… saya akan investigasi ke tempat yang bakal menjadi TKMP (Tempat Kejadian Malam Pertama), hehehe.

Ijab kabul, yang katanya sakral, dan penuh dengan air mata. Masa’ iya? Keinginan saya ikut ya gara-gara mitos air mata itu juga. Mas sudah gandengan tangan dengan penghulu, salaman! Tempat saya duduk berhadapan langsung dengan kedua tangan itu, yang lebih penting di samping bapak, sekali lagi demi baju batik kembar yang saya beli. Begitu ijab selesai, mas langsung ngucapin kabul, pakek bahasa Arab, jadi jangan minta saya mengulanginya. Dan pembuktian mitos itu? Benar! Saya ngeluarin air mata. Ngerasa tengsin, saya ngelirik ke bokap. Sama. Beliau ya nangis dan malah hampir termehek-mehek. Setelah acara selesai, baru saya tahu kalau nyokap ya nangis juga. Kenapa kami nangis?? Ntah!

PS: Saya sempat pegang kamera digital pinjeman dari kantor bokap. Dan bermaksud menjadi reporter dadakan. Saya minta izin ke mas untuk nginep di rumah itu satu hari saja. Saya ingin memfoto TKMP, biar bisa ngebedain before dan after-nya. Tapi dilarang keras. Kalau maksa, tu kamar mo dikasih police line. Kalau masih maksa, katanya mau dikasih mak lampir di depan kamar biar saya lari terbirit-birit. Kalau masih ngotot, saya mau dicebloskan ke penjara. Saya nyerah!

11 Oktober 2008

Jabatan yang tidak jelas di akad nikah menjadi terhormat di acara resepsi. Bertempat di bangkalan, Gd. Rato Ebuh, saya menjadi domas. Alasannya simple: saya cakep! Itu mengada-ada sih. Mungkin alasan sebenarnya adalah: yang mengantarkan makanan udah ada yang urus dari pihak penyedia persewaan gedung, jadi daripada saya duduk bengong, mending mondar-mandir ngikutin manten. Resepsi berawal dan berakhir dengan indah dan menawan karena keberadaan saya.

Mas dan penghulu gandengan tangan. Yang perempuan cemuburu, hehehe

Mas dan penghulu gandengan tangan. Yang perempuan cemuburu, hehehe

October 4, 2008

Semester Berapa?

Filed under: Uncategorized — udee @ 12:35 pm

Lebaran. Di waktu ini lah, saya bertemu semua keluarga, bahkan keluarga yang entah siapa namanya, dan entah dari garis keturunan yang mana. Oh ya, untuk para pembaca yang kebetulan atau sudah meniatkan diri untuk merayakan hari raya idul fitri, saya ucapkan selamat hari raya idul fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf atas kata dan tingkah laku yang tidak berkenan di hati dan pikiran saudara-saudaraku sekalian.

“Aduh…. sudah besar ya? dulu masih kecil, sekarang tambah udah gede, tambah cakep lagi. kelas berapa?” beginilah salah satu komentar mereka yang sudah sekian lama sekali tak bersua. Pertanyaan dan komentarnya hampir sama dengan apa yang ia katakan tahun lalu. Untuk yang pertama ini, ada rasa bangga dan congak dikit karena dibilang udah besar, jarang-jarang ada yang bilang kayak gitu. Kalo yang tambah cakep, saya sangat tersinggung, pasalnya kalau cakep sudah sedari dulu. Dalam sebuah kesempatan, saya juga sempet ke tempat kelahiran saya. Di jalan Gazali. “Ya ampun yudi… lama ga’ ketemu, tante kangen ma kamu. Pasti sekarang udah kuliah ya? Ni anak emang lain dari yang lain, kayak arab. Dan dari dulu sampe’ sekarang ga’ berubah ya, masih kecil” Dan ini lah pengakuan jujur seseorang dimana aku menghabiskan usia tiga setengah tahunku dengan bertetanggaan dengan dia dan, katanya, sering menghabiskan waktu main dengan anaknya yang sekarang tinggi besar.

Mungkin Agus Ringgo kebingungan ditanya “kapan nikah??”. Nah, dalam lebaran tahun ini saya juga mendapat pertanyaan yang sama (sama membingungkannya) waktu acara kumpul keluarga, yang sangat komplit karena kebetulan bokap nyokap mau menikahkan mas saya. “kapan lulus?” pertanyaan ini masih belum terlalu membingungkan. Saya masih bisa ngeles. “Doain aja tahun depan udah bisa lulus nte”. Pertanyaan yang lain, bikin saya mati kutu.

“Semester berapa?”

Sembilan om. Dengan nada rada males menyebut angka 9. Dan si istri akan menimpali “Semester 9??? Hah??? Bukannya seharusnya udah lulus? Koq masih kuliah? Kuliah itu kan sampe’ semester 8…..” Panjang sekali komentarnya, sisanya, sangat jauh dari pendengaran normal saya.

Dan untuk menumbal mulutmu harimaumu-nya, saya ajukan beberapa alasan berikut: (1) Saya ngajar bahasa inggris nte di tempat kursus, jadi RADA SIBUK nte, (2) saya juga seorang penerjemah, jadinya SIBUK nte, dan (3) saya seorang surveyor nte, jadi SANGAT SIBUK SEKALI. Begitu saya sumbat “O… sudah bisa ngasilin duit donk, ya udah, pinter-pinter bagi waktunya ya… tante doain semester 10 lulus!” Nah gitu donk nte! Alasan yang teramat sangat LEBAY…. tampaknya masih akan saya pakai untuk keluarga-keluarga lain yang akan segera menjejeli rumah sehari menjelang pernikahan. Ampuh banget geto…

Blog at WordPress.com.