Saya kaget, shock, terpontang-panting, hingga membentur tembok kamar ketika mendengar kabar kalau teman saya didiagnosis terkena penyakit TBC oleh salah seorang dokter. Seingat saya, penyakit ini disebabkan oleh makhluk ciptaan Tuhan yang paling meggeli: Bakteri. Bakteri apa? Jangan ditanyakan kepada saya, kemampuan saya untuk mengingat pelajaran biologi cukup sampai disitu. TBC disebabkan oleh bakteri, titik. Tapi tunggu, Mycobacterium tuberculosis. Para dedengkot bakteri ngasih nama bakteri penyebab TBC seperti itu. Saya menemukannya di web dinas kesehatan.
Di ruang tunggu poli paru, rumah sakit umum daerah Jember, waktu saya ngaterin teman saya mengembalikan tabung dahak dan mengambil foto plus hasil tes darah, kami bertemu dengan dokter muda, yang notabene kakak kelas saya semasa SMA. Di situ lah ingatan saya tentang TBC kembali tercerahkan. Awalnya, saya membuka foto paru-paru yang baru teman saya ambil. Pertanyaan pertama: ini foto sebuah paru-paru atau tulang rusuk? Gambar paru-paru dalam buku pelajaran biologi dulu sangat berbeda dengan apa yang saya lihat dari hasil ronsen. Agar tidak tampak terlihat bodoh, saya simpan pertanyaan pertama saya. Pertanyaan kedua: “Bakterinya mana mas?”. Lalu dia bilang “waduh…kalian kan tidak tahu? Ada perbedaan kesuraman dari foto paru-paru ini” Jawaban yang saya simpulkan adalah para dokter menyimpan rahasia yang tidak ingin pasien tahu. Bahkan untuk wujud bakteri sekalipun.
“Nah, selain karena tertular, orang kena TBC itu gara-gara apa mas?” Bakteri itu bisa ada dimana-mana. Di jalan, di bus, di kamar kosan yang pengap, mereka hidup dimana-dimana. Jadi kita harus hati-hati. Yang paling bikin saya shock tanpa terpontang-panting adalah bakteri jahanam itu masuk ke tubuh kita melalui pernafasan. “Ya Tuhan, bahkan bisa bernafaspun, manusia tidak perlu bergembira dulu, ketika bernafas kita harus waspada dengan yang namanya bakteri itu, yang tinggal dimana-dimana!” Ketika sekelompok bakteri itu menjajah bumi, mungkin semua orang akan mengakhiri hidup. Percuma bernafas, yang kita hirup bakteri.
Bakteri penyebab TBC ini termasuk yang aerob, simplenya gini: dia suka tinggal hidup di tempat yang ada oksigennya. Mengetahui ini, saya semakin ingin melihat wujud bakteri itu dan bilang ke dia “Wahai bakteri yang baik hati, kamu kan bisa tinggal di bumi dengan damai tanpa mengganggu manusia. Kalau misalnya, kamu merasa tingkat polusi bumi sudah akut, kamu tinggal di dalam plastik atau toples kue aja, para manusia yang rajin menabung pasti akan menyuplai oksigen buat kamu. Di situ kamu aman, kami pun aman. Peace…. Bakteri!”
Saya kemudian tersadar oleh satu hal. Satu-satunya makhluk Tuhan yang diberi akal adalah manusia, kita! Ketika udah ada kata satu-satunya, itu artinya bakteri tidak punya akal. Yang dia tahu hanya lah mencari lubang hidung manusia lalu masuk ke paru-paru. Bernegosiasi dengan bakteri adalah hal yang sia-sia. Keinginan untuk berdialog dengannya saya urungkan saja. Bahkan melihat wujudnya saja saya ogah, yang ada dia malah mencari lubang hidung saya agar bisa endehoi dengan selingkuhannya di dalam paru-paru saya.
PS: Biar agak bermanfaat dikit, ada beberapa tips untuk menghindari rombongan bakteri yang ingin bertamu di dalam paru-paru kita: JANGAN BERNAFAS! Ok, lebih serius dikit. Jadi, kita mesti:
- Standar lah, hidup sehat!! Hindari rokok, makan makanan yang bergizi, isitirahat yang cukup, olah raga yang teratur, hindari alkohol, obat bius dan stress, hindari juga free sex, ancamannya lebih gede: HIV. Yang paling ngaco dan janga ditiru, bernafas sesekali saja!
- Bila batuk, mulutnya ditutup. Kalao ada orang ngentut, tutup hidung saja!
- Buanglah ludah pada tempatnya, jangan sembarangan!
- Lingkungan kita tinggal harus dirawat agar tetap bersih! Lakukan juga 3M, nyamuk demam berdarah sama-sama berbahanya!
- Vaksinasi pada bayi, berhubung kita udah gede, kita ga perlu berdoa pada Tuhan agar dijadikan bayi lagi, lalu dapat vaksin.
