Just Another Way to Send Out My Mind

September 23, 2008

Tuhan, Saya, dan Dukun

Filed under: Life and I — udee @ 12:10 am

Selamat pagi Tuhan, aku mau mengadu Han. Tapi maaf, tidak melalui sholat subuh.

 

Han, seorang dukun, orang pintar atau apa pun lah istilahnya, telah mengusik hubungan saya dengan Engkau, dan saya amat sangat tidak suka sekali. Begini, tadi pagi setelah sahur, saya kembali tidur, Tuhan yang tau gue banget sungguh lah Maha Tahu kebiasaan saya yang satu ini. Dan Tuhan tahu apa-apa saja yang mungkin membuat saya tidak sholat subuh. Tuhan bisa melihat bukan kalau ada dua alasan yang membuat saya tidak sholat subuh: (1) saya sedang malas (2) saya kebablasan tidur, dan ibu saya mengistilahkannya dengan “subuhnya dipatok ayam”

 

Pagi ini Tuhan, saya sudah menyiapkan alarm untuk sholat subuh, saya niat menemuimu Han. Saya tidak malas menemuiMu pagi ini. Teman sekamar saya kembali berbicara tentang hakikat sholat, saya masih menikmati bagian dimana ia bercerita Tuhan. Saya sengaja belum bangun, ingin mengetahui sejauh mana ia akan menceramahiku.

 

“Hmmmsss….. saya sedang menunggu sesuatu, nanti jam 7 tak sholat subuh” dengan nada malas, begitulah saya menanggapi omelan paginya. Saya sedang menunggu alarm saya Han, saya atur pada pukul 05.05. Saya menunggu waktu sholat subuh saya datang.

 

Mendengar kata-kata jam 7, dia mengungkap cerita tentang orang pintar. Dan setelah kalimatnya yang satu ini saya menjadi malas menemuiMu. Maaf kalau Tuhan akhirnya menjadi sasaran malas saya.

 

“Mas, subuh itu penting, tiang agama juga. Buang setannya mas, ada yang lihat foto mas yang lama dan yang baru, dari situ orang itu bilang kalau mas yang sekarang ditemani banyak setan. Mas sekarang tidak alim lagi. Dirukyah aja mas, biar setannya ilang”

 

Dieng……. Masalah setan, saya tidak marah. Saya yakin, manusia punya sisi baik dan sisi buruk, dan itu dipengaruhi keberadaan malaikat dan setan di dalam manusia. “Mas sekarang tidak alim lagi” bagian ini saya marah Han. Alim atau tidak itu menjadi urusan saya dengan Engkau. Kalimat-kalimat dukun itu telah mencampuri hubungan kita Han. Apa yang dilakukan dukun dan yang membawa foto saya itu telah mencampuri wilayah pribadi saya dengan Engkau.

 

Han, kita sama-sama tahu aku bukan yang alim dan saya memang butuh diluruskan. Tapi sekali lagi, yang dilakukan terhadap foto saya adalah mencampuri wilayah pribadi saya. Apa yang dilakukan terhadap foto saya bukan lah untuk meluruskan saya. Dan saya tidak suka itu Han. “Mas sekarang tidak alim lagi”, kalimat ini mengandung arti kalau saya pernah alim. Tuhan, difitnah seperti itu terkesan indah, tapi tidak Han. Fitnah ini menyangkut hubungan saya dengan yang menciptakan saya, fitnah ini tentang kita. Kita sama-sama tahu kalau bukan dua tiga kali saya meninggalkan sholat, terlebih subuh.

 

Han, saya percaya pada Engkau. Balasan yang akan menimpaku, saya percaya itu ada. Mengenai bagaimana hubungan saya dengan Engkau, saya tidak suka di-ikutcampur-i oleh seperti ini. Saya lebih suka kalau saya yang sejak awal tidak alim diluruskan untuk menjadi lebih alim sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit! Buat yang percaya ma dukun, mulai sekarang berhenti. Kesaksian sudah cukup membuktikan kalau mereka tidak benar. Kalau masih tidak percaya tanya saja kepada bapak, ibu dan nenek saya yang kadang nyerah tuk ngingetin saya sholat. Saya percaya tentang setan dan malaikat, baik dan buruk. Tapi percaya lah, saya tidak pernah manjadi orang yang alim kalau yang dikatakan alim adalah sholat lima waktu, tanpa ada yang ketinggalan. Jadi dukun itu salah besar dengan mengatakan kalau setan telah membuat saya tidak alim lagi!

4 Comments »

  1. bem,,,ga sopan lo bilang Tuhan pake nama ‘Han”…
    hehehehe

    Comment by niar — September 23, 2008 @ 2:35 am

  2. daripada saya bilang “Tuh”
    ntar malah salah tanggep TUH kan bambang cakep
    ato TUH kan bambang pinter, hehehe….

    Comment by udee — September 23, 2008 @ 4:08 am

  3. Biasa aja dong,,,,gak usah emosi gtu…………!!!!!!
    ngena BGT!!!!!!!!

    Comment by a'an — September 25, 2008 @ 11:51 am

  4. apanya yang ngena banget coy??/!!! Ber-emosilah sebelum larangan emosi masuk dalam UU negara kita…

    Comment by udee — September 25, 2008 @ 1:39 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.