Just Another Way to Send Out My Mind

September 7, 2008

Cermin

Filed under: Life and I — udee @ 3:47 am

Seperti biasa saya mandi pagi setelah bangun lagi dari tidur habis subuh yang sampai saat ini masih terasa nikmatnya. Antre. Meskipun saya tinggal di Indonesia, tapi untuk yang satu ini saya tidak menemukan calo di sekitar kamar mandi kosan saya. Saya harus menunggu di depan kamar mandi, hingga pintunya terbuka. Sekali ditinggal, tidak menutup kemungkinan saya akan berdiri lagi di tempat antrean. Dan sekali lagi, tidak ada calo yang bisa membukakan pintu kamar mandi. Pelajaran yang mungkin semua orang tahu: jangan pernah meninggalkan antrean hingga kita mendapatkan apa yang kita antre-kan.

            Dari pelajaran ini, saya berdiri kurang lebih 30 menit. Dan selama itu, saya satu-satunya yang berdiri. Sialan! Seharusnya saya bisa duduk dulu di kamar, toh saya satu-satunya orang yang menunggu pintu kamar mandi terbuka. Memandangi air di bak mandi, saya telanjang. Andai ada cermin besar mengelilingi setiap dinding kamar mandi, saya bisa melihat seluruh bagian tubuh saya yang sedang telanjang, dengan sangat leluasa. Mulai dari bagian yang biasanya saya tutupi, katakanlah bagian belakang kepala; bentuk rambut di bagian belakang; ketiak; punggung; penis; paha; pantat; dan bagian lainnya yang mungkin saya lupakan. Sayangnya, tidak ada cermin besar. Saya hanya bisa melihat sebagian dari mereka.

            Saya terkagum-kagum kepada teman-teman yang teramat sangat menelanjangi dirinya untuk disuguhkan kepada saya dan kawan lain. “ini gue, apa yang ada di depan lu adalah gue”. Sayangnya, segala macam yang mereka suguhkan kepada kami tidak segalanya mereka sadari. Seperti yang saya lakukan di kamar mandi. Saya tunjukkan seluruh bagian tubuh saya kepada gayung dan bak mandi, tapi saya seakan masih membutuhkan cermin untuk melihat diri saya. Mungkin saja gayung melihat panu di pantat saya, dan saya baru bisa menyadarinya kalau gayung itu berbicara (ini benar-benar contoh kemungkinan, saya ada cermin kecil dan melihat bagian pantat saya, tidak ada panu!!! Beneran!).

            Kadang kita benar-benar bertindak tanpa menyadari apa yang kita lakukan hingga menjadi kebiasaan dan para pengamat sudah men-stempel-kannya pada diri kita. Misalnya saja, bagi teman-teman, saya adalah orang baik, saya ingin berbuat baik kepada semua orang, tanpa terkecuali, termasuk yang pernah menyakiti saya. Dari waktu ke waktu, teman-teman saya akhirnya bilang, “kamu sok baik!” Hms… akhirnya, saya membutuhkan cermin saya sendiri, cermin yang seharusnya bisa saya gunakan sebelum saya bersikap kepada teman-teman. Untungnya, kata ini lah yang Indonesia banget. Untungnya, cermin yang saya butuhkan tidak ada. Andai ada, saya tidak akan pernah dikritik, dan seketika kritik datang, tidak menutup kemungkinan telinga saya tuli, mata saya buta. Kenyataan terpahit yang saya dapat, andai pun saya masih menjadi orang yang bisa menerima kenyataan: cermin pribadi saya telah berbohong karena ketika bercermin saya bisa melihat tubuh saya dan mendengar suara saya. Tak jarang cermin pribadi membohongi kita.

Cermin terbaik tetap lah teman, siapa-siapa yang kita tujukan untuk bersikap, bukan cermin pribadi yang menempel di kamar atau pun cermin yang saya angankan menempeli setiap dinding kamar mandi. Dan saya membutuhkan gayung dan bak mandi untuk memberi tahu letak panu saya. Cermin yang tertempel di dinding tak ubahnya sebuah kroscek dari apa yang dikatakan oleh gayung dan bak mandi. Sekali lagi, saya tidak memiliki panu di pantat.

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.