Just Another Way to Send Out My Mind

September 25, 2008

Ramadhan Mau Berakhir

Filed under: Life and I — udee @ 3:45 am

Hari ini sudah memasuki hari ke-25 bulan puasa, sudah 10 hari putaran ke-tiga. Dan, dalam blog ini tidak satu tulisan pun tentang Ramadhan.

“Pemilik blog macam apa ini? Muslim bukan sih?”

Beruntunglah hingga saat ini tidak ada pertanyaan seperti ini. Ok lah, saya tidak cukup shock dengan pertanyaan semacam itu. Tapi, para pembaca yang rajin berbelanja menjelang lebaran, perbolehkan lah saya membiarkan kalian membaca postingan saya tentang bulan puasa tahun ini. Pengalaman spiritual saya (yang mungkin tidak akan kalian temukan dalam tulisan ini).

Hari pertama, saya biasa-biasa saja. Beberapa teman mengeluhkan dan mencurhatkan kalau mereka sangat lemas bin tak berdaya pada hari pertama. Alasannya simpel: “perut saya kaget tidak diberi makan seharian, ini kan hari pertama”. Lalu kenapa saya biasa-biasa saja? Intinya, kenapa saya ga’ lapar walau puasa? Terbiasa berpuasa kah? Tidak juga. Terbiasa menahan lapar kah (maksudnya: sering ngirit makan)? Walaupun belum diketahui jawaban pastinya. Menahan lapar nampaknya mendekati kebenaran ketimbang terbiasa berpuasa.

Hari-hari berikutnya tidak ada cerita yang ingi aku tuliskan.

Menjelang satu minggu puasa. Perut saya diserang sakit yang amat sangat. Awalnya saya pikir lapar (pemikiran sederhana). Pemikiran yang paling rumit dan so… drama adalah liverku kambuh! Sakit perut itu datang di pagi hari. Saya putuskan membatalkan puasa. Dibelikan roti (karena saya pikir saya lapar). Dan juga jamu temulawak (yang ini karena alasan yang so drama tadi). Benar-benar lemas. Roti gak habis. Temulawak terpaksa tidak dihabisin karena perut kosong. Hipotesa kalau saya lapar GAGAL TOTAL. Saya tidak lahap makan, adanya muntah! Hipotesa liver kambuh, belum ada pembuktian, hingga sekarang.

Satu hari kemudian, saya paksakan berpuasa. Pikir saya, percuma juga tidak berpuasa, tidak bisa makan. Dua hari kemudian, ketika mulai membaik. Perjalan puasa malah tidak menyenangkan. Saya mengalami apa yang teman saya alami pada hari pertama puasa. Lemes bin tak berdaya. Letih, lunglai, lesu, tak bergairah. Kebiasaan ngirit makan koq tidak ada ber-efek lagi ya?

Pasca sakit perut, “belas kasihan” berdatangan. Ibu kos selalu menyediakan buka puasa buat saya. Ntah bagaimana caranya dia tahu, melihat super sibuknya ibu kos di tokonya, saya berpikir ibu kos tahu kabar saya sakit dari infotainment yang ia lihat di layar kaca yang nangkring di pojokan tokonya. Ini adalah bualan paling besar sepanjang bulan puasa, bahkan saya tidak tahu di toko itu benar-benar ada TV apa tidak, dan saya tidak mungkin masuk infotainment. Yang lebih terasa istimewa lagi, saya juga mendapat teh hangat gratis di rumah seorang ibu dimana saya terbiasa membeli buka puasa dan sahur.

Minggu ketiga puasa, saya menjadi musafir. Jember-Surabaya (1 hari, nyetir motor gantian). Muter-muter Surabaya (4 hari, nyetir motor sendirian), dan Surabaya-Jember (1 hari, nyetir motor sendirian). Sure pay yang membawa saya menjadi seorang musafir yang Alhamdulilah masih berpuasa. Hari ketiga di surabaya benar-benar hampir membuat saya membatalkan puasa lagi. Mendapatkan 4 responden ternyata susah (bolak-balik Surabaya utara-surabaya selatan). Responden terakhir pada hari itu meminta interview dilakukan di rumahnya. Di daerah kenjeran. Jalan besar masih ok, tidak rewel. Mendekati rumahnya, saya harus memasuki jalan-jalan kecil dan gang-gang kecil. Muter sana, muter sini. Dalam pencarian itu, saya sudah berjanji untuk membeli pocari sweat dan ngebatalin puasa. Wawancara selesai jam 3. Dieng…. Tuhan masih sayang agar saya masih berpuasa.

“Jam 3 nanggung! Mending saya pulang, dan tidur….!” hampir pukul 4 nyampek rumah, bukannya tidur malah diminta bantuan Bu Dhe nyiapin buka puasa. Ok, Tuhan semakin sayang, karena aroma di dapur sungguh nikmat.

Para pembaca yang mempersiapkan kue lebaran, ada pengalaman spiritual di cerita ini? Hanya kalian yang bisa nyimpulin. Dan… Kesimpulan dari saya mengenai puasa saya hingga hari ke-25 adalah: 1 hari bolong, 23 hari full, dan 1 hari masih otw (on the way, red).

September 23, 2008

Saya (bukan) Mahasiswa

Filed under: Uncategorized — udee @ 12:17 pm

Akhirnya saya bermain-main dengan status saya sebagai mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember. Tindakan paling bodoh dan keputusan paling besar (setidaknya untuk saat ini) adalah ketika saya memutuskan untuk cuti kuliah. Tentu saja bukan karena hamil. Bukan juga karena alasan kerja, pekerjaan saya tidak menuntut banyak waktu. Alasan klasik dibalik alasan sebenarnya: KETIADAAN BIAYA. Itu yang saya tuliskan dalam formulir permohonan cuti.

Saya tidak berbohong dengan alasan klasik itu. Saya tidak mau buang-buang duit, terlebih saya sangat yakin tidak mampu menghadiahi jerih payah orang tua mencari duit dengan kelulusan. Sebegitu optimisnya saya dengan rasa pesimis saya mengenai kelulusan saya. Saya sangat optimis saya lulus tahun 2009. Kemarin saya sudah mendapatkan surat dari rektorat (jangan dibayangkan bahwa ada kurir Universitas Jember yang mengantarkan surat itu ke kosan saya, sama sekali tidak seperti itu). Dengan ditandantangani PEREK I, saya melepaskan jabatan saya sebagai mahasiswa selama satu semester ke depan. KTM saya tidak berlaku lagi. Bahkan kalau Indonesia lebih birokratis dari apa yang sudah sangat birokratis saat ini, mungkin saya wajib mengubah KTP dan SIM saya karena di situ tertera status kemahasiswaan saya. Dan orang tua saya wajib memperbarui Kartu Keluarga.

Tuhan, saya benar-benar cuti. Saya sudah dengan sengaja membatalkan rencana-rencana kelulusan saya, jadi tolong bantu saya memecahkan masalah, bukan malah memperburuk keputusan yang saya ambil. Saya tidak ingin lagi terjepit pada kondisi dimana saya harus membatalkan rencana-rencana kelulusan yang sudah saya amandemen pasca ke-tidak-mahasiswa-an saya.

Tuhan, Saya, dan Dukun

Filed under: Life and I — udee @ 12:10 am

Selamat pagi Tuhan, aku mau mengadu Han. Tapi maaf, tidak melalui sholat subuh.

 

Han, seorang dukun, orang pintar atau apa pun lah istilahnya, telah mengusik hubungan saya dengan Engkau, dan saya amat sangat tidak suka sekali. Begini, tadi pagi setelah sahur, saya kembali tidur, Tuhan yang tau gue banget sungguh lah Maha Tahu kebiasaan saya yang satu ini. Dan Tuhan tahu apa-apa saja yang mungkin membuat saya tidak sholat subuh. Tuhan bisa melihat bukan kalau ada dua alasan yang membuat saya tidak sholat subuh: (1) saya sedang malas (2) saya kebablasan tidur, dan ibu saya mengistilahkannya dengan “subuhnya dipatok ayam”

 

Pagi ini Tuhan, saya sudah menyiapkan alarm untuk sholat subuh, saya niat menemuimu Han. Saya tidak malas menemuiMu pagi ini. Teman sekamar saya kembali berbicara tentang hakikat sholat, saya masih menikmati bagian dimana ia bercerita Tuhan. Saya sengaja belum bangun, ingin mengetahui sejauh mana ia akan menceramahiku.

 

“Hmmmsss….. saya sedang menunggu sesuatu, nanti jam 7 tak sholat subuh” dengan nada malas, begitulah saya menanggapi omelan paginya. Saya sedang menunggu alarm saya Han, saya atur pada pukul 05.05. Saya menunggu waktu sholat subuh saya datang.

 

Mendengar kata-kata jam 7, dia mengungkap cerita tentang orang pintar. Dan setelah kalimatnya yang satu ini saya menjadi malas menemuiMu. Maaf kalau Tuhan akhirnya menjadi sasaran malas saya.

 

“Mas, subuh itu penting, tiang agama juga. Buang setannya mas, ada yang lihat foto mas yang lama dan yang baru, dari situ orang itu bilang kalau mas yang sekarang ditemani banyak setan. Mas sekarang tidak alim lagi. Dirukyah aja mas, biar setannya ilang”

 

Dieng……. Masalah setan, saya tidak marah. Saya yakin, manusia punya sisi baik dan sisi buruk, dan itu dipengaruhi keberadaan malaikat dan setan di dalam manusia. “Mas sekarang tidak alim lagi” bagian ini saya marah Han. Alim atau tidak itu menjadi urusan saya dengan Engkau. Kalimat-kalimat dukun itu telah mencampuri hubungan kita Han. Apa yang dilakukan dukun dan yang membawa foto saya itu telah mencampuri wilayah pribadi saya dengan Engkau.

 

Han, kita sama-sama tahu aku bukan yang alim dan saya memang butuh diluruskan. Tapi sekali lagi, yang dilakukan terhadap foto saya adalah mencampuri wilayah pribadi saya. Apa yang dilakukan terhadap foto saya bukan lah untuk meluruskan saya. Dan saya tidak suka itu Han. “Mas sekarang tidak alim lagi”, kalimat ini mengandung arti kalau saya pernah alim. Tuhan, difitnah seperti itu terkesan indah, tapi tidak Han. Fitnah ini menyangkut hubungan saya dengan yang menciptakan saya, fitnah ini tentang kita. Kita sama-sama tahu kalau bukan dua tiga kali saya meninggalkan sholat, terlebih subuh.

 

Han, saya percaya pada Engkau. Balasan yang akan menimpaku, saya percaya itu ada. Mengenai bagaimana hubungan saya dengan Engkau, saya tidak suka di-ikutcampur-i oleh seperti ini. Saya lebih suka kalau saya yang sejak awal tidak alim diluruskan untuk menjadi lebih alim sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit! Buat yang percaya ma dukun, mulai sekarang berhenti. Kesaksian sudah cukup membuktikan kalau mereka tidak benar. Kalau masih tidak percaya tanya saja kepada bapak, ibu dan nenek saya yang kadang nyerah tuk ngingetin saya sholat. Saya percaya tentang setan dan malaikat, baik dan buruk. Tapi percaya lah, saya tidak pernah manjadi orang yang alim kalau yang dikatakan alim adalah sholat lima waktu, tanpa ada yang ketinggalan. Jadi dukun itu salah besar dengan mengatakan kalau setan telah membuat saya tidak alim lagi!

September 7, 2008

Cermin

Filed under: Life and I — udee @ 3:47 am

Seperti biasa saya mandi pagi setelah bangun lagi dari tidur habis subuh yang sampai saat ini masih terasa nikmatnya. Antre. Meskipun saya tinggal di Indonesia, tapi untuk yang satu ini saya tidak menemukan calo di sekitar kamar mandi kosan saya. Saya harus menunggu di depan kamar mandi, hingga pintunya terbuka. Sekali ditinggal, tidak menutup kemungkinan saya akan berdiri lagi di tempat antrean. Dan sekali lagi, tidak ada calo yang bisa membukakan pintu kamar mandi. Pelajaran yang mungkin semua orang tahu: jangan pernah meninggalkan antrean hingga kita mendapatkan apa yang kita antre-kan.

            Dari pelajaran ini, saya berdiri kurang lebih 30 menit. Dan selama itu, saya satu-satunya yang berdiri. Sialan! Seharusnya saya bisa duduk dulu di kamar, toh saya satu-satunya orang yang menunggu pintu kamar mandi terbuka. Memandangi air di bak mandi, saya telanjang. Andai ada cermin besar mengelilingi setiap dinding kamar mandi, saya bisa melihat seluruh bagian tubuh saya yang sedang telanjang, dengan sangat leluasa. Mulai dari bagian yang biasanya saya tutupi, katakanlah bagian belakang kepala; bentuk rambut di bagian belakang; ketiak; punggung; penis; paha; pantat; dan bagian lainnya yang mungkin saya lupakan. Sayangnya, tidak ada cermin besar. Saya hanya bisa melihat sebagian dari mereka.

            Saya terkagum-kagum kepada teman-teman yang teramat sangat menelanjangi dirinya untuk disuguhkan kepada saya dan kawan lain. “ini gue, apa yang ada di depan lu adalah gue”. Sayangnya, segala macam yang mereka suguhkan kepada kami tidak segalanya mereka sadari. Seperti yang saya lakukan di kamar mandi. Saya tunjukkan seluruh bagian tubuh saya kepada gayung dan bak mandi, tapi saya seakan masih membutuhkan cermin untuk melihat diri saya. Mungkin saja gayung melihat panu di pantat saya, dan saya baru bisa menyadarinya kalau gayung itu berbicara (ini benar-benar contoh kemungkinan, saya ada cermin kecil dan melihat bagian pantat saya, tidak ada panu!!! Beneran!).

            Kadang kita benar-benar bertindak tanpa menyadari apa yang kita lakukan hingga menjadi kebiasaan dan para pengamat sudah men-stempel-kannya pada diri kita. Misalnya saja, bagi teman-teman, saya adalah orang baik, saya ingin berbuat baik kepada semua orang, tanpa terkecuali, termasuk yang pernah menyakiti saya. Dari waktu ke waktu, teman-teman saya akhirnya bilang, “kamu sok baik!” Hms… akhirnya, saya membutuhkan cermin saya sendiri, cermin yang seharusnya bisa saya gunakan sebelum saya bersikap kepada teman-teman. Untungnya, kata ini lah yang Indonesia banget. Untungnya, cermin yang saya butuhkan tidak ada. Andai ada, saya tidak akan pernah dikritik, dan seketika kritik datang, tidak menutup kemungkinan telinga saya tuli, mata saya buta. Kenyataan terpahit yang saya dapat, andai pun saya masih menjadi orang yang bisa menerima kenyataan: cermin pribadi saya telah berbohong karena ketika bercermin saya bisa melihat tubuh saya dan mendengar suara saya. Tak jarang cermin pribadi membohongi kita.

Cermin terbaik tetap lah teman, siapa-siapa yang kita tujukan untuk bersikap, bukan cermin pribadi yang menempel di kamar atau pun cermin yang saya angankan menempeli setiap dinding kamar mandi. Dan saya membutuhkan gayung dan bak mandi untuk memberi tahu letak panu saya. Cermin yang tertempel di dinding tak ubahnya sebuah kroscek dari apa yang dikatakan oleh gayung dan bak mandi. Sekali lagi, saya tidak memiliki panu di pantat.

Blog at WordPress.com.