Hari ini sudah memasuki hari ke-25 bulan puasa, sudah 10 hari putaran ke-tiga. Dan, dalam blog ini tidak satu tulisan pun tentang Ramadhan.
“Pemilik blog macam apa ini? Muslim bukan sih?”
Beruntunglah hingga saat ini tidak ada pertanyaan seperti ini. Ok lah, saya tidak cukup shock dengan pertanyaan semacam itu. Tapi, para pembaca yang rajin berbelanja menjelang lebaran, perbolehkan lah saya membiarkan kalian membaca postingan saya tentang bulan puasa tahun ini. Pengalaman spiritual saya (yang mungkin tidak akan kalian temukan dalam tulisan ini).
Hari pertama, saya biasa-biasa saja. Beberapa teman mengeluhkan dan mencurhatkan kalau mereka sangat lemas bin tak berdaya pada hari pertama. Alasannya simpel: “perut saya kaget tidak diberi makan seharian, ini kan hari pertama”. Lalu kenapa saya biasa-biasa saja? Intinya, kenapa saya ga’ lapar walau puasa? Terbiasa berpuasa kah? Tidak juga. Terbiasa menahan lapar kah (maksudnya: sering ngirit makan)? Walaupun belum diketahui jawaban pastinya. Menahan lapar nampaknya mendekati kebenaran ketimbang terbiasa berpuasa.
Hari-hari berikutnya tidak ada cerita yang ingi aku tuliskan.
Menjelang satu minggu puasa. Perut saya diserang sakit yang amat sangat. Awalnya saya pikir lapar (pemikiran sederhana). Pemikiran yang paling rumit dan so… drama adalah liverku kambuh! Sakit perut itu datang di pagi hari. Saya putuskan membatalkan puasa. Dibelikan roti (karena saya pikir saya lapar). Dan juga jamu temulawak (yang ini karena alasan yang so drama tadi). Benar-benar lemas. Roti gak habis. Temulawak terpaksa tidak dihabisin karena perut kosong. Hipotesa kalau saya lapar GAGAL TOTAL. Saya tidak lahap makan, adanya muntah! Hipotesa liver kambuh, belum ada pembuktian, hingga sekarang.
Satu hari kemudian, saya paksakan berpuasa. Pikir saya, percuma juga tidak berpuasa, tidak bisa makan. Dua hari kemudian, ketika mulai membaik. Perjalan puasa malah tidak menyenangkan. Saya mengalami apa yang teman saya alami pada hari pertama puasa. Lemes bin tak berdaya. Letih, lunglai, lesu, tak bergairah. Kebiasaan ngirit makan koq tidak ada ber-efek lagi ya?
Pasca sakit perut, “belas kasihan” berdatangan. Ibu kos selalu menyediakan buka puasa buat saya. Ntah bagaimana caranya dia tahu, melihat super sibuknya ibu kos di tokonya, saya berpikir ibu kos tahu kabar saya sakit dari infotainment yang ia lihat di layar kaca yang nangkring di pojokan tokonya. Ini adalah bualan paling besar sepanjang bulan puasa, bahkan saya tidak tahu di toko itu benar-benar ada TV apa tidak, dan saya tidak mungkin masuk infotainment. Yang lebih terasa istimewa lagi, saya juga mendapat teh hangat gratis di rumah seorang ibu dimana saya terbiasa membeli buka puasa dan sahur.
Minggu ketiga puasa, saya menjadi musafir. Jember-Surabaya (1 hari, nyetir motor gantian). Muter-muter Surabaya (4 hari, nyetir motor sendirian), dan Surabaya-Jember (1 hari, nyetir motor sendirian). Sure pay yang membawa saya menjadi seorang musafir yang Alhamdulilah masih berpuasa. Hari ketiga di surabaya benar-benar hampir membuat saya membatalkan puasa lagi. Mendapatkan 4 responden ternyata susah (bolak-balik Surabaya utara-surabaya selatan). Responden terakhir pada hari itu meminta interview dilakukan di rumahnya. Di daerah kenjeran. Jalan besar masih ok, tidak rewel. Mendekati rumahnya, saya harus memasuki jalan-jalan kecil dan gang-gang kecil. Muter sana, muter sini. Dalam pencarian itu, saya sudah berjanji untuk membeli pocari sweat dan ngebatalin puasa. Wawancara selesai jam 3. Dieng…. Tuhan masih sayang agar saya masih berpuasa.
“Jam 3 nanggung! Mending saya pulang, dan tidur….!” hampir pukul 4 nyampek rumah, bukannya tidur malah diminta bantuan Bu Dhe nyiapin buka puasa. Ok, Tuhan semakin sayang, karena aroma di dapur sungguh nikmat.
Para pembaca yang mempersiapkan kue lebaran, ada pengalaman spiritual di cerita ini? Hanya kalian yang bisa nyimpulin. Dan… Kesimpulan dari saya mengenai puasa saya hingga hari ke-25 adalah: 1 hari bolong, 23 hari full, dan 1 hari masih otw (on the way, red).
