Saya tidak ingat kapan saya berjalan menuju kampus U (bukanlah inisial sebuah kampus, iseng aja pilih U). Tapi saya ingat ada pemandangan yang tidak seharusnya. Keluar dari arah belakang bangunan yang katanya adalah prasasti kampus itu, dimana pepohonan besar dengan akar-akar besar menjulang, pria itu mengenakan seragam satpam. Dia membenarkan celana yang ia pakai, memasang kancing celana dan mengencangkan sabuk. Apa kira-kira yang baru saja ia lakukan? Tidak mungkin dia baru menyelesaikan senggama terhebatnya di belakang prasasti, bajunya masih tampak rapi, rambutnya juga tidak acak-acakkan, dan tidak terlalu berkeringat. Ada satu hal yang paling mudah dilakukan kaum saya, kencing berdiri. Dan perkiraan saya dia baru saja melakukan itu.
Saya mengelus dada ketika menerka-nerka apa yang baru saja ia lakukan. Kasihan sekali kampus U itu. Mereka memiliki oknum yang menggerogoti tubuh mereka sendiri. Satpam itu bukan kah bagian dari kampus, bagian dari pejabat kampus. Mereka tentu saja mendapatkan gaji dari kampus itu. Dan mereka lah yang membuat peratuaran untuk kami mahasiswa. Memang tidak ada peraturan yang terpampang yang menuliskan “Dilarang kencing di sembarang tempat!” Tapi tuan-tuan telah mendirikan kamar mandi. Bukan sekedar pernak-pernik kampus ‘kan Tuan? Tuan-tuan sungguh sadar kami adalah mahasiswa yang sudah melewati usia TK. Makanya petunjuk ke arah kamar mandi hanya dituliskan dengan TOILET. Akan terasa lucu dan menggemaskan jika TOILET diganti dengan KALAU MAU KENCING KE ARAH SINI.
Tuan-tuan yang terhormat, bukankah kalian membangun kamar mandi agar kita tidak membuang air kemih di sembarang tempat. Sebenarnya kamar mandi yang kalian bangun sungguh beruntung. Berbeda dengan tempat sampah yang kalian sediakan. Tempat sampah itu masih memerlukan petunjuk tertulis “Dilarang membuang sampah sembarangan”. Nampaknya sudah bertahun-tahun orang merasa jijik melihat orang yang mengeluarkan kemaluannya untuk mencapai kenikmatan membuang air kemih. Bahkan, orang-orang pun masih terasa malu mengeluarkan kemaluan mereka untuk berkemih di tempat umum, kecuali di tempat privat yang berada di tengah-tengah tempat umum – belakang prasasti sebuah kampus bukanlah tempat privat.
Tuan, kalau mau membentuk norma bentuklah dulu kesepakatan di antara tuan-tuan yang terhormat. Setelah itu, silahkan tuan bangun kamar mandi dan petunjuk dengan TOILET saja. Kalau di antara tuan-tuan belum ada kesepakatan, bukankah lebih baik menggunakan KALAU MAU KENCING KE ARAH SINI untuk menggantikan TOILET. Terima kasih tuan yang terhormat, atas pemandangan itu. Saya sudah ingat kapan saya melihatnya: di sebuah hari pertama pada ujian masuk ke perguruan tinggi di Indonesia beberapa waktu yang telah lama tenggelam.