Just Another Way to Send Out My Mind

July 8, 2008

“Sir, You’ve Broken Your Rules”

Filed under: Free — udee @ 3:32 am

Saya tidak ingat kapan saya berjalan menuju kampus U (bukanlah inisial sebuah kampus, iseng aja pilih U). Tapi saya ingat ada pemandangan yang tidak seharusnya. Keluar dari arah belakang bangunan yang katanya adalah prasasti kampus itu, dimana pepohonan besar dengan akar-akar besar menjulang, pria itu mengenakan seragam satpam. Dia membenarkan celana yang ia pakai, memasang kancing celana dan mengencangkan sabuk. Apa kira-kira yang baru saja ia lakukan? Tidak mungkin dia baru menyelesaikan senggama terhebatnya di belakang prasasti, bajunya masih tampak rapi, rambutnya juga tidak acak-acakkan, dan tidak terlalu berkeringat. Ada satu hal yang paling mudah dilakukan kaum saya, kencing berdiri. Dan perkiraan saya dia baru saja melakukan itu.

Saya mengelus dada ketika menerka-nerka apa yang baru saja ia lakukan. Kasihan sekali kampus U itu. Mereka memiliki oknum yang menggerogoti tubuh mereka sendiri. Satpam itu bukan kah bagian dari kampus, bagian dari pejabat kampus. Mereka tentu saja mendapatkan gaji dari kampus itu. Dan mereka lah yang membuat peratuaran untuk kami mahasiswa. Memang tidak ada peraturan yang terpampang yang menuliskan “Dilarang kencing di sembarang tempat!” Tapi tuan-tuan telah mendirikan kamar mandi. Bukan sekedar pernak-pernik kampus ‘kan Tuan? Tuan-tuan sungguh sadar kami adalah mahasiswa yang sudah melewati usia TK. Makanya petunjuk ke arah kamar mandi hanya dituliskan dengan TOILET. Akan terasa lucu dan menggemaskan jika TOILET diganti dengan KALAU MAU KENCING KE ARAH SINI.

Tuan-tuan yang terhormat, bukankah kalian membangun kamar mandi agar kita tidak membuang air kemih di sembarang tempat. Sebenarnya kamar mandi yang kalian bangun sungguh beruntung. Berbeda dengan tempat sampah yang kalian sediakan. Tempat sampah itu masih memerlukan petunjuk tertulis “Dilarang membuang sampah sembarangan”. Nampaknya sudah bertahun-tahun orang merasa jijik melihat orang yang mengeluarkan kemaluannya untuk mencapai kenikmatan membuang air kemih. Bahkan, orang-orang pun masih terasa malu mengeluarkan kemaluan mereka untuk berkemih di tempat umum, kecuali di tempat privat yang berada di tengah-tengah tempat umum – belakang prasasti sebuah kampus bukanlah tempat privat.

Tuan, kalau mau membentuk norma bentuklah dulu kesepakatan di antara tuan-tuan yang terhormat. Setelah itu, silahkan tuan bangun kamar mandi dan petunjuk dengan TOILET saja. Kalau di antara tuan-tuan belum ada kesepakatan, bukankah lebih baik menggunakan KALAU MAU KENCING KE ARAH SINI untuk menggantikan TOILET. Terima kasih tuan yang terhormat, atas pemandangan itu. Saya sudah ingat kapan saya melihatnya: di sebuah hari pertama pada ujian masuk ke perguruan tinggi di Indonesia beberapa waktu yang telah lama tenggelam.

July 5, 2008

Arai Bilang Kita Harus Berani Bermimpi

Filed under: Life and I — udee @ 10:14 am

            “Untuk ingin ke *** saja, kita harus ribet-ribet ngurusin administrasi nan birokratif sekali. Kalau punya duit kita tidak perlu kayak gini ya?” Ini hanya sepenggal saja dari bagian perjalanan kami menelusuri ruang akademik, ruang TU, kantor FISIP, atau apa lah nama sebenarnya dari ruangan itu. Kami harus berjubel dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya yang sedang mengurusi semester pendek. Dan kami, kami mengurusi salah satu persyaratan aplikasi beasiswa.

            Beberapa hari sebelumnya, saya menyerah dengan beasiswa itu. Saya ingin mereka saja yang mendapatkannya, yang menurut saya lebih tepat untuk menjadi satu-satunya atau dua-duanya dari universitas yang berada di ujung timur jawa timur ini. Hingga akhirnya saya mendapati seorang kawan yang akhirnya memaksa saya untuk mencari toko yang memiliki mesin fotokopi. Menggandakan beberapa kertas berharga yang memabawa kami dalam ruangan yang penuh dengan mahasiswa, dan orang-orang birokrat yang sungguh menjengkelkan.

            Pada malam sebelum hari itu, saya menerima sms yang mengingatkan saya bahwa Arai, salah seorang tokoh dalam Sang Pemimpi, bilang kalau kita harus berani bermimpi. Let’s take any risk, being rejected and brokenhearted. Tampaknya dia mengenal saya sebagai sang pemimpi. Dan dalam pandangan saya, sejauh saya mengenal diri saya, saya adalah sang pemimpi tulen. Dan setiap mimpi saya adalah untuk orang-orang yang berharga di depan saya. Mimpi saya untuk mereka. Kawan, what I’m worrying is not about being rejected but disappointing them.

            Ketertundaan saya mewujudkan mimpi mengunjungi suku aborigin di Australia membuat saya berpikir ulang untuk bertindak dengan mimpi-mimpi saya. Memasuki sesi interview saya melihat sumringah pada mereka, yang karena mereka lah saya berani bermimpi. Setiap pos wawancara saya lewati, hingga akhirnya tiba di sebuah pos kepemimpinan yang mempertanyakan masalah keorganisasian dan segala yang ada di dalamnya. Pada pos ini lah saya berharap bisa menunjukkan apa yang saya dapat selama ini. Bukan soal pengalaman, ternyata saya dituntun untuk menjawab berdasarkan apa yang tercetak di buku yang sesekali beliau lihat di bawah meja (persis seperti yang saya lakukan ketika nyontek di kelas 2 SMA). Seminggu berikutnya, saya melihat tidak ada lagi nama saya untuk sesi berikutnya. Saya gagal ketika itu. Dan mereka? Berdiri di atas kekecewaan. Saya sadari kekecewaan itu adalah simpati untuk saya yang dalam perjalanan menuju tempat tes harus melawan penat berdiri di kereta mulai dari jember hingga bangil, dan melanjutkan perjalanan memutar di kota mojokerto untuk mencapai surabaya. Tapi saya tidak ingin melihat bentuk kekecewaan apapun dari mereka.  

            Saya sempat kehilangan mimpi-mimpi saya, membuangnya lebih tepat. Picik pikiran saya. Mengharapkan mereka tidak kecewa dengan tidak bermimpi lagi. Siapa saya. Seperti yang tuan Arai bilang: “Orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu.” Saya bagian dari kita yang tuan Arai maksud. Orang tua saya tidak pernah sekalipun memberikan saya sesuatu hal dengan serba instan. Saya masih ingat dimana saya berontak meminta motor dengan dalih jabatan bapak sebagai PNS yang bisa melakukan kredit. Tuan tahu apa jawaban mereka, mereka akan kredit asalkan saya berhenti sekolah, dan jadilah ojek dengan motor itu agar menghasilkan uang. Dieng…. Rontok keinginan saya. Di sekolah lah saya bermimpi untuk mereka. Tidak mungkin saya pergi dari tempat dimana mimpi-mimpi saya ada di sekitar tempat itu.

Kehilangan mimpi membuat saya menjadi manusia yang sungguh tidak berarti. Melihat kekecewaan mereka membuat saya menjadi orang yang gagal sepenuhnya. Tuan Arai, untuk selanjutnya, saya bermimpi sendirian, masih untuk mereka, dan saya tidak akan lagi mengabari mereka. Ada yang bilang kalau saya akan menutup pintu doa mereka dengan berjalan sendirian. Doa mereka lah yang sebenarnya saya butuhkan. Tapi saya tanggung risiko. Saya lebih senang memberi kejutan saja pada mereka, saya tidak akan melibatkan mereka untuk memiliki harapan. Tuan arai, begini lah saya bermimpi sekarang. Saya membentuk sebuah bangunan tinggi untuk mereka, dan saya akan menghancurkannya setelah semua tampak indah untuk mereka. Setelah semua siap. Tuan Arai, saya menjadi apa-apa karena saya bermimpi.

Blog at WordPress.com.