Aku tidak tiba-tiba berdiri di depan kampus UK PETRA. Pekerjaan juga yang membawaku ke sini, masih terlalu abstrak. OK, aku naik angkot kemudian becak untuk menginjakkan kakiku di depan kampus itu. Aku takjub bisa melihat kampus lagi. Aku semakin takjub begitu menyadari bahwa apa yang akan aku lakukan sesaat setelah berdiri di depan kampus ini adalah melihat para mahasiswa berkegiatan.
Tak kurang dari satu menit saja aku menatapi gedung kampus itu, bukan karena aku tidak lagi menjadi takjub, tapi dikarenakan klakson mobil. Setelah agak menepi, baru saya bisa melihat secara utuh bagaimana kaca pintu mobil yang terbuka perlahan memperlihatkan wajahnya. Waw…. cantik juga sopirnya (siapapun itu, yang berada di belakang kemudi mobil disebut sopir bukan? Ralat jika salah). Seeprtinya dia bukan sopir sembarangan. Dia masih muda, bermata sipit, rambutnya kira kira sebahu dan lurus, asli bukan karena rebounding (seolah-olah aku tahu apa bedanya). Sepertinya dia mahasiswa, tak ada tampang penjaga kantin apalagi dosen.
Tangan perempuan itu meraih kertas yang keluar dari sebuah mesin, aku tidak tahu bagaimana mengistilahkannya. Aku sebut mesin itu sebagai tukang parkir otomatis. Rasanya setelah perempuan itu menyobek kertas, baru lah plang-nya terbuka dan mobilnya dengan leluasa memasuki area parkir kampus. Berbeda sekali dengan sistem parkir di kampus-ku dulu. Mataku masih jeli dengan mobil yang tadi me-nglaksoni-ku. Warnanya silver. Dan ia mulai bergabung dengan yang lainnya di parkiran. Mobil semua. Sekali lagi, ini pemandangan yang berbeda dengan kampusku dulu.
OK, lupakan parkiran dan perempuan itu.
Aku ingin segera menakjubi para mahasiswa yang berkegiatan dan bagaiamana aku bekerja di kampus ini.
Tempat aku bekerja hari itu ada di lantai 5. Seperti yang ada di bayanganku, pasti letaknya tidak jauh dari acara seminar mahasiswa Petra ini (bayangan yang bodoh, kantorku adalah salah satu pihak sponsor dari acara seminar itu, tentu saja tempatnya tidak jauh-jauh dari situ). Ya, bayangan bodoh itu benar 100%. Tempat yang diberikan pada kami untuk Open Table berdekatan dengan pintu masuk peserta seminar. Semoga pesertanya rame, harapku waktu itu biar aku gak seperti kambing congek di situ.
”Ehm… mas, butuh apa lagi? Colokan listriknya kurang mungkin” Pertanyaan ini hampir senada dengan pertanyaanku dulu ketika menjadi mahasiswa dan menghadapi pihak sponsorship, dengan harapan next program dia mau mensponsori lagi.
”Eh… ditunggu sebentar ya mba’, soalnya OB saya belum datang, dialah yang membawa barang-barang dari HO”
”Ok, kalau ada kebutuhan apa-apa, hubungi kami saja”
Aku cuma bisa membalas dengan senyuman paling pahit.
”Mba’ sorry….” Aku menghentikan langkahnya yang beranjak pergi dari meja ku.
”ACnya minta tolong dinyalakan, biar g useless” ternyata udara sumpek yang membuat saya tersenyum pahit. Tempat saya bekerja ketika itu memang berdekatan dengan pintu masuk peserta, tapi lorong menuju pintu itu tak selebar lobby kantorku. Terasa sumpek jadinya, ditambah lagi dengan panitia yang berlalu lalang.
Panitia
Waktu yang molor, rasanya tidak perlu aku takjubi. Sama saja. Yel yel sebelum acara dimulai, sudah biasa ku lewati juga. Atau mungkin panitia yang mencoba lebih serinig muncul di dokumentasi acara. Sudah biasa ku temukan juga.
Satu hal yang bikin aku cemburu. Sebelum acara dimulai, panitia sibuk memasang kotak kecil hitam di bagian belakang tubuh mereka, ada yang di saku belakang celana, ada juga yang menempatkan kotak hitam itu di jalur sabuk (apa sih namanya). Setelah merasa nyaman dan memastikan kotak itu tidak akan jatuh, mereka mulai sibuk dengan kabel hitam dari kotak itu, dan memastikan kabel itu menempel di kepala mereka, tepatnya di telinga dan di daerah pipi hampir ke mulut.
”check….. check… halo? Gimana? Jernih” satu mahasiswi mencoba kecanggihan alat itu.
Sementara beberapa mahasiswa yang letaknya sekitar 100 meter dari mahasiswi tadi langsung merespon dengan acungan jempol. Parah! Kompak sekali! Respon mereka sepertinya menunjukkan kalau alat itu bekerja dengan baik.
Gila!!! Alat ini adalah impian-ku dulu untuk bisa berkomunikasi dengan panitia-panitia yang lain tanpa harus teriak-teriak.
Dan ini lah ketakjubanku berikutnya. Kostum panitia. Membicarakan soal kostum akan menjadi selalu menarik, dahulu, tim kepanitiaanku selalu nyantai, cukup kaos oblong, kalo terlalu resmi, ok lah pakek Almamater. Dan ini lah mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang di hadapanku ketika itu. Para mahasiswa berpakaian resmi sebagaimana pakaian kantor-ku tiap hari senin sampai dengan jumat, lengkap juga dengan dasinya. Dan satu lagi yang tak pernah ku kenakan di kantor: Jas (bukan Jas Almamater). Dan begini mahasiswi-mahasiswinya: pakaian berkrah, tanpa motif apa pun, dan blazer. Di antara mereka ada yang mengenakan rok, ada juga yang mengenakan celana. Dan para perempuan itu tampak bersemangat dengan langkah mereka yang cepat dan tegas. Ada semangat di setiap langkah para perempuan itu. Perfect!!
Jauh di antara pekerjaanku yang membosankan hari itu, ada kegembiraan yang jauh lebih besar dengan melihat berbagai ketakjuban dari kegiatan mahasiswa tersebut. Dan walau bagaimana pun, aku layak berterima kasih pada pekerjaanku yang pada hari itu sangat membosankan. Kalau tidak ada semangat para mahasiswa itu, aku pasti akan lebih memilih di kantor saja. Lebih produktif.