Just Another Way to Send Out My Mind

December 28, 2009

Emak, mimpi itu masih ada!

Filed under: Uncategorized — udee @ 3:22 am

Orang-orang seperti kita akan mati kalau tak punya mimpi. Sepenggal kalimat ini tak jauh berbeda dengan kekuatan jargon sebuah produk motor: THE POWER OF DREAM!

1990-an

Inilah mimpiku waktu kecil dulu:

Waktu itu masih senja,  di teras rumah ibu dan aku duduk bersama. Aku lupa waktu itu kelas berapa, antara kelas 1 sampai 3 SD mungkin. Aku (mungkin) lelah dengan posisi duduk di atas bale-bale. Aku rebahkan kepalaku di pangkuan ibu-ku. Enak sekali rasanya, hampir tertidur aku. Tangan ibuku sangat menggangguku, aku tidak ingin terlelap. Dan usapan tangan ibu di rambutku membuatku semakin nyaman dan mata mulai tertutup. Seakan mau tidur. Alhamdulilah, suara ibu memecah belaian tangan di rambutnya, aku terkaget.

“masih ingin tinggal di Jakarta?”

Aku selalu bergairah membicarakan kota besar itu. Aku tidak tahu banyak soal Jakarta, yang aku tahu itu adalah kumpulan orang kaya. Itu adalah ibu kota negaraku, Indonesia.  Dan Jakarta, sangat jauh sekali dengan tempat aku tinggal: Pamekasan, Madura. Kota pusat Eks.Karesidenan Madura, dan aku bangga ketika itu dengan adanya kantor Eks.Karesidenan di kotaku. Setidaknya, aku anggap ini sebagai Ibu Kota Madura. Tak jauh beda dengan Jakarta, sama-sama ibu kota bukan?

“pasti bu’, aku akan kerja di sana, dan aku akan bawa ibu ke sana. Aku juga akan cari istri orang sana” aku girang menjawab pertanyaan ibu. Ketika itu aku g peduli dan tidak mempertanyakan kenapa tiba-tiba ada pertanyaan itu. Yang aku tau, pertanyaan itu tidak menjadikan ku tertidur.

2009

Ibu, menembus Jakarta ternyata tidak semudah bayanganku ketika kecil dulu. Hanya sekali memang aku berusaha menembusnya, tapi aku yakin kesempatan itu akan datang lagi ibu.  Jakarata itu besar ibu, aku naik busway di sana. Hebat sekali, tak ada kendaraan seperti ini di kabupaten kita. Bahkan di Surabaya sekali pun ibu. Aku senang melihat mereka berjalan cepat menyusuri jembatan jembatan halte busway. Mereka hebat-hebat ibu. Aku senang berjalan cepat seperti mereka. Dan aku ingin menjadi bagian dari pemandangan itu ibu, orang-orang yang berjalan cepat di tiap sudut Jakarta. Doakan!

November 14, 2009

Sebuah Ketakjuban terhadap Mahasiswa-mahasiswa yang Berkegiatan

Filed under: Life and I — udee @ 6:31 am

Aku tidak tiba-tiba berdiri di depan kampus UK PETRA. Pekerjaan juga yang membawaku ke sini, masih terlalu abstrak. OK, aku naik angkot kemudian becak untuk menginjakkan kakiku di depan kampus itu. Aku takjub bisa melihat kampus lagi. Aku semakin takjub begitu menyadari bahwa apa yang akan aku lakukan sesaat setelah berdiri di depan kampus ini adalah melihat para mahasiswa berkegiatan.

Tak kurang dari satu menit saja aku menatapi gedung kampus itu, bukan karena aku tidak lagi menjadi takjub, tapi dikarenakan klakson mobil. Setelah agak menepi, baru saya bisa melihat secara utuh bagaimana kaca pintu mobil yang terbuka perlahan memperlihatkan wajahnya. Waw…. cantik juga sopirnya (siapapun itu, yang berada di belakang kemudi mobil disebut sopir bukan? Ralat jika salah). Seeprtinya dia bukan sopir sembarangan. Dia masih muda, bermata sipit, rambutnya kira kira sebahu dan lurus, asli bukan karena rebounding (seolah-olah aku tahu apa bedanya). Sepertinya dia mahasiswa, tak ada tampang penjaga kantin apalagi dosen.

Tangan perempuan itu meraih kertas yang keluar dari sebuah mesin, aku tidak tahu bagaimana mengistilahkannya. Aku sebut mesin itu sebagai tukang parkir otomatis. Rasanya setelah perempuan itu menyobek kertas, baru lah plang-nya terbuka dan mobilnya dengan leluasa memasuki area parkir kampus. Berbeda sekali dengan sistem parkir di kampus-ku dulu. Mataku masih jeli dengan mobil yang tadi me-nglaksoni-ku. Warnanya silver. Dan ia mulai bergabung dengan yang lainnya di parkiran. Mobil semua. Sekali lagi, ini pemandangan yang berbeda dengan kampusku dulu.

 

OK, lupakan parkiran dan perempuan itu.

Aku ingin segera menakjubi para mahasiswa yang berkegiatan dan bagaiamana aku bekerja di kampus ini.

 

Tempat aku bekerja hari itu ada di lantai 5. Seperti yang ada di bayanganku, pasti letaknya tidak jauh dari acara seminar mahasiswa Petra ini (bayangan yang bodoh, kantorku adalah salah satu pihak sponsor dari acara seminar itu, tentu saja tempatnya tidak jauh-jauh dari situ). Ya, bayangan bodoh itu benar 100%. Tempat yang diberikan pada kami untuk Open Table berdekatan dengan pintu masuk peserta seminar. Semoga pesertanya rame, harapku waktu itu biar aku gak seperti kambing congek di situ.

 

          ”Ehm… mas, butuh apa lagi? Colokan listriknya kurang mungkin” Pertanyaan ini hampir senada dengan pertanyaanku dulu ketika menjadi mahasiswa dan menghadapi pihak sponsorship, dengan harapan next program dia mau mensponsori lagi.

           ”Eh… ditunggu sebentar ya mba’, soalnya OB saya belum datang, dialah yang membawa barang-barang dari HO”

           ”Ok, kalau ada kebutuhan apa-apa, hubungi kami saja”

Aku cuma bisa membalas dengan senyuman paling pahit.

            ”Mba’ sorry….” Aku menghentikan langkahnya yang beranjak pergi dari meja ku.

            ”ACnya minta tolong dinyalakan, biar g useless” ternyata udara sumpek yang membuat saya tersenyum pahit. Tempat saya bekerja ketika itu memang berdekatan dengan pintu masuk peserta, tapi lorong menuju pintu itu tak selebar lobby kantorku. Terasa sumpek jadinya, ditambah lagi dengan panitia yang berlalu lalang.

 

Panitia

Waktu yang molor, rasanya tidak perlu aku takjubi. Sama saja. Yel yel sebelum acara dimulai, sudah biasa ku lewati juga. Atau mungkin panitia yang mencoba lebih serinig muncul di dokumentasi acara. Sudah biasa ku temukan juga.

 

Satu hal yang bikin aku cemburu. Sebelum acara dimulai, panitia sibuk memasang kotak kecil hitam di bagian belakang tubuh mereka, ada yang di saku belakang celana, ada juga yang menempatkan kotak hitam itu di jalur sabuk (apa sih namanya). Setelah merasa nyaman dan memastikan kotak itu tidak akan jatuh, mereka mulai sibuk dengan kabel hitam dari kotak itu, dan memastikan kabel itu menempel di kepala mereka, tepatnya di telinga dan di daerah pipi hampir ke mulut.

”check….. check… halo? Gimana? Jernih” satu mahasiswi mencoba kecanggihan alat itu.

Sementara beberapa mahasiswa yang letaknya sekitar 100 meter dari mahasiswi tadi langsung merespon dengan acungan jempol. Parah! Kompak sekali! Respon mereka sepertinya menunjukkan kalau alat itu bekerja dengan baik.

Gila!!! Alat ini adalah impian-ku dulu untuk bisa berkomunikasi dengan panitia-panitia yang lain tanpa harus teriak-teriak.

Dan ini lah ketakjubanku berikutnya. Kostum panitia. Membicarakan soal kostum akan menjadi selalu menarik, dahulu, tim kepanitiaanku selalu nyantai, cukup kaos oblong, kalo terlalu resmi, ok lah pakek Almamater. Dan ini lah mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang di hadapanku ketika itu. Para mahasiswa berpakaian resmi sebagaimana pakaian kantor-ku tiap hari senin sampai dengan jumat, lengkap juga dengan dasinya. Dan satu lagi yang tak pernah ku kenakan di kantor: Jas (bukan Jas Almamater). Dan begini mahasiswi-mahasiswinya: pakaian berkrah, tanpa motif apa pun, dan blazer. Di antara mereka ada yang mengenakan rok, ada juga yang mengenakan celana. Dan para perempuan itu tampak bersemangat dengan langkah mereka yang cepat dan tegas. Ada semangat di setiap langkah para perempuan itu. Perfect!!

 

Jauh di antara pekerjaanku yang membosankan hari itu, ada kegembiraan yang jauh lebih besar dengan melihat berbagai ketakjuban dari kegiatan mahasiswa tersebut. Dan walau bagaimana pun, aku layak berterima kasih pada pekerjaanku yang pada hari itu sangat membosankan. Kalau tidak ada semangat para mahasiswa itu, aku pasti akan lebih memilih di kantor saja. Lebih produktif.

November 11, 2009

Back

Filed under: Free — udee @ 10:24 am

Wew… it seems that it was a long period of off in writting. Hm.. not it seems, but it is. Well, many things happened, and actually many things to tell, but… lazyness to write surround me.  And I thought it might be easier doing it in facebook, but now, I think I need to write again, and explore that ability. Ha ha ha “ability”, don’t I make a mistake in writting. Ok, whatever,

the main thing in this post today is: from now on, I start writting (again), hope it will be consistent

January 19, 2009

Kepada Lula, teman “lu-gw”-ku

Filed under: Uncategorized — udee @ 10:43 pm

Masih ingat kawan? Ketika dengan nomer baru, kau mencoba membuatku penasaran. Kau bilang kau perempuan paling cantik di Jember. Oleh karena itu, akhirnya ku simpen nomer itu di dalam phonebook-ku dengan contact name Ms. Jember. Aku lupa kata-kata apa yang aku baca dari nomer “pakai-buang”mu itu, tapi satu hal yang aku inget: dari kata-kata yang ada di sms itu, aku begitu yakin pemiliki nomer baru itu adalah Lula teman-ku, kamu! Aku bilang, hanya kamu lah yang memiliki kata-kata yang “wah” banget dan cukup untuk membuatku berpikir untuk mencari makna di dalam kalimatmu.

Males, aku akhiri. Menjelang tidur Ms. Jember muncul lagi.

- Masih penasaran kah kau? -

- Sepertinya, kau lah yang penasaran apakah aku masih penasaran atau tidak! – itu balesan-ku

Dan sms kita menjelang tidur itu tidak pernah terlepas dari kata-kata “penasaran” hingga mbulet yang entah mengandung makna apa.

Lul, lu inget?

***

Kau hapus blog-mu,

Aku protes, aku rindu membacanya

Kau bilang kau cacat dalam menulis,

Tapi tidak bagiku

Menguraikan kata cacat pun kau masih sehat

Buktinya, aku tertarik untuk menulis ini

Lula, kau pertanyakan untuk apa kamu menulis? Kenapa tidak kau jauhkan saja pikiran kamu bahwa tulisanmu hanya untuk mengumbar rasa agar pembacamu tau kehidupanmu dan ber-empati padamu. Kenapa tak kau pikirkan saja bahwa kau tersenyum ketika mulai menggerakkan tanganmu dan menulis tulisan “menye-menye” yang kau maksudkan. Atau kau menangis ketika kau berhadapan dengan laptop-mu lalu menulis. Atau kau marah ketika kau menulis. Bahwa kau PUAS ketika melakukan pekerjaan menulis.

“Mungkin sudah saatnya aku hanya diam, belajar mendengar, menjadi penonton” seperti itu kau bilang. Itu kah yang kau tau sekarang? Tak tau kah kau ada juga orang lain, bahkan yang tak mengenal mu sekalipun, ingin belajar mendengar dari mu. Ingin belajar menjadi penonton apa-apa yang kau tulis.

Lul, apa yang sebenarnya membuat kamu cacat? Apakah benar pandanganku bahwa kamu telah terjebak dalam pandangan “penulis blog adalah kumpulan orang yang ingin dan mencari perhatian? Aku sedih jika itu benar. Atau… kau memang menulis hanya, benar-benar, agar mendapatkan perhatian? Aku semakin sedih jika itu benar. ANDAIPUN kedua asumsiku benar, apa salahnya jika itu kau jadikan bonus saja atas kesenanganmu penulis. Ke-depan-kan saja pendapatmu bahwa menulis itu adalah pekerjaan mengasyikkan.

Lul, gw kangen ma tulisan “menye-menye” lu!

December 29, 2008

Kasihan Sekali Indonesia-ku

Filed under: Free — udee @ 10:02 am

Tulisan saya ini berawal dari komen saya kepada seoran kawan yang dalam blognya menulis:“Sometimes, I love Indonesia”! Oopss…. Sorry someone there. Peace!!!:) kadang-kadang? Kenapa terkadang? Cinta kepada indonesia seakan tercemar oleh “bersitegang” di DPR, tindakan sembarangan di jalan raya, di transportasi umum, di kantor, di televisi, dan masih banyak lagi ruang yang menyisakan perkataan “Indonesia ya gitu!”, “Dasar Indonesia” dan entah apa lagi.

“Acara TV sekarang tidak kreatif. Stasiun TV yang satu mengeluarkan acara musik, yang lain juga ngeluarin acara yang sama. Indonesia koq gak kreatif ya?” Nah, Indonesia lagi yang kena. Bukankah indonesia bukan hanya mereka yang duduk di belakang layar program-program TV. Indonesia punya kita, yang punya ide-ide kreatif untuk menciptakan program TV yang tidak mem”bebek”. Jadi jangan sekedar bicara dan menyudutkan negaraku, negara kita.

Melihat PNS berkeliaran di jam kerja, atau melihat PNS menonton film “Tit….” ketika jam kerja, dan di kantor pula, ada yang berseru: Dasar Indonesia! PNS tidak dapat mewakili jutaan jiwa yang tiggal di Indonesia, PNS tidak dapat mewakili Indonesia. Indonesia tidak hanya memiliki PNS yang demikian, ada kita yang seharusnya bisa merubah kebiasaan “ngilang” dari kantor belum pada waktunya, dari pada sekedar bicara dan mencemooh negara-ku, negara kita.

Saya juga pernah membaca pengalaman orang Indonesia yang pernah ke Singapura. Pengendara motor atau mobil menghormati pejalan kaki yang menyebrang. Terdengar suara “Hms… di indonesia, nyebrang aja harus lari-lari biar gak ketabrak motor sialan yang ngebut sana-sini itu, bahkan berjalan di pedistrian pun harus bersaing dengan pengendara motor. Hm…. Indonesia, indonesia…. Payah!” ya Tuhan, semakin parah saja umpatan kepada negeriku. Kita bisa menghormati pejalan kaki, indonesia bukan hanya mereka yang ugal-ugalan di jalanan.

Dan ini komentar beberapa orang asing tentang Indonesia “I love Indonesia, orangnya ramah-ramah!” berita tentang teror di Bali sudah menjadi berita internasional, tapi tidak mempengaruhi pandangan mereka tentang kita. Lah kita? Acara tv yang itu-itu saja sudah disimpulkan Indonesia tidak kreatif. PNS yang nakal pun membuat kita menyimpulkan Dasar Indonesia!!! Pengendara motor yang payah pun berhasil membuat kita berkata Indonesia payah!!!

Kawan, mari bersama-bersama cintai Indonesia. Kaji hal “buruk” yang ada di negeri kita, tanpa mencemooh indonesia-ku, indonesia kita. Mulai lah dari kita untuk memperbaiki yang “buruk” itu, sehingga setiap jiwa yang hidup di Indonesia akan berkata “I Love Indonesia, FOREVER!!!”

Older Posts »

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.