“Sir, You’ve Broken Your Rules”

8 07 2008

Saya tidak ingat kapan saya berjalan menuju kampus U (bukanlah inisial sebuah kampus, iseng aja pilih U). Tapi saya ingat ada pemandangan yang tidak seharusnya. Keluar dari arah belakang bangunan yang katanya adalah prasasti kampus itu, dimana pepohonan besar dengan akar-akar besar menjulang, pria itu mengenakan seragam satpam. Dia membenarkan celana yang ia pakai, memasang kancing celana dan mengencangkan sabuk. Apa kira-kira yang baru saja ia lakukan? Tidak mungkin dia baru menyelesaikan senggama terhebatnya di belakang prasasti, bajunya masih tampak rapi, rambutnya juga tidak acak-acakkan, dan tidak terlalu berkeringat. Ada satu hal yang paling mudah dilakukan kaum saya, kencing berdiri. Dan perkiraan saya dia baru saja melakukan itu.

Saya mengelus dada ketika menerka-nerka apa yang baru saja ia lakukan. Kasihan sekali kampus U itu. Mereka memiliki oknum yang menggerogoti tubuh mereka sendiri. Satpam itu bukan kah bagian dari kampus, bagian dari pejabat kampus. Mereka tentu saja mendapatkan gaji dari kampus itu. Dan mereka lah yang membuat peratuaran untuk kami mahasiswa. Memang tidak ada peraturan yang terpampang yang menuliskan “Dilarang kencing di sembarang tempat!” Tapi tuan-tuan telah mendirikan kamar mandi. Bukan sekedar pernak-pernik kampus ‘kan Tuan? Tuan-tuan sungguh sadar kami adalah mahasiswa yang sudah melewati usia TK. Makanya petunjuk ke arah kamar mandi hanya dituliskan dengan TOILET. Akan terasa lucu dan menggemaskan jika TOILET diganti dengan KALAU MAU KENCING KE ARAH SINI.

Tuan-tuan yang terhormat, bukankah kalian membangun kamar mandi agar kita tidak membuang air kemih di sembarang tempat. Sebenarnya kamar mandi yang kalian bangun sungguh beruntung. Berbeda dengan tempat sampah yang kalian sediakan. Tempat sampah itu masih memerlukan petunjuk tertulis “Dilarang membuang sampah sembarangan”. Nampaknya sudah bertahun-tahun orang merasa jijik melihat orang yang mengeluarkan kemaluannya untuk mencapai kenikmatan membuang air kemih. Bahkan, orang-orang pun masih terasa malu mengeluarkan kemaluan mereka untuk berkemih di tempat umum, kecuali di tempat privat yang berada di tengah-tengah tempat umum – belakang prasasti sebuah kampus bukanlah tempat privat.

Tuan, kalau mau membentuk norma bentuklah dulu kesepakatan di antara tuan-tuan yang terhormat. Setelah itu, silahkan tuan bangun kamar mandi dan petunjuk dengan TOILET saja. Kalau di antara tuan-tuan belum ada kesepakatan, bukankah lebih baik menggunakan KALAU MAU KENCING KE ARAH SINI untuk menggantikan TOILET. Terima kasih tuan yang terhormat, atas pemandangan itu. Saya sudah ingat kapan saya melihatnya: di sebuah hari pertama pada ujian masuk ke perguruan tinggi di Indonesia beberapa waktu yang telah lama tenggelam.





Arai Bilang Kita Harus Berani Bermimpi

5 07 2008

            “Untuk ingin ke *** saja, kita harus ribet-ribet ngurusin administrasi nan birokratif sekali. Kalau punya duit kita tidak perlu kayak gini ya?” Ini hanya sepenggal saja dari bagian perjalanan kami menelusuri ruang akademik, ruang TU, kantor FISIP, atau apa lah nama sebenarnya dari ruangan itu. Kami harus berjubel dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya yang sedang mengurusi semester pendek. Dan kami, kami mengurusi salah satu persyaratan aplikasi beasiswa.

            Beberapa hari sebelumnya, saya menyerah dengan beasiswa itu. Saya ingin mereka saja yang mendapatkannya, yang menurut saya lebih tepat untuk menjadi satu-satunya atau dua-duanya dari universitas yang berada di ujung timur jawa timur ini. Hingga akhirnya saya mendapati seorang kawan yang akhirnya memaksa saya untuk mencari toko yang memiliki mesin fotokopi. Menggandakan beberapa kertas berharga yang memabawa kami dalam ruangan yang penuh dengan mahasiswa, dan orang-orang birokrat yang sungguh menjengkelkan.

            Pada malam sebelum hari itu, saya menerima sms yang mengingatkan saya bahwa Arai, salah seorang tokoh dalam Sang Pemimpi, bilang kalau kita harus berani bermimpi. Let’s take any risk, being rejected and brokenhearted. Tampaknya dia mengenal saya sebagai sang pemimpi. Dan dalam pandangan saya, sejauh saya mengenal diri saya, saya adalah sang pemimpi tulen. Dan setiap mimpi saya adalah untuk orang-orang yang berharga di depan saya. Mimpi saya untuk mereka. Kawan, what I’m worrying is not about being rejected but disappointing them.

            Ketertundaan saya mewujudkan mimpi mengunjungi suku aborigin di Australia membuat saya berpikir ulang untuk bertindak dengan mimpi-mimpi saya. Memasuki sesi interview saya melihat sumringah pada mereka, yang karena mereka lah saya berani bermimpi. Setiap pos wawancara saya lewati, hingga akhirnya tiba di sebuah pos kepemimpinan yang mempertanyakan masalah keorganisasian dan segala yang ada di dalamnya. Pada pos ini lah saya berharap bisa menunjukkan apa yang saya dapat selama ini. Bukan soal pengalaman, ternyata saya dituntun untuk menjawab berdasarkan apa yang tercetak di buku yang sesekali beliau lihat di bawah meja (persis seperti yang saya lakukan ketika nyontek di kelas 2 SMA). Seminggu berikutnya, saya melihat tidak ada lagi nama saya untuk sesi berikutnya. Saya gagal ketika itu. Dan mereka? Berdiri di atas kekecewaan. Saya sadari kekecewaan itu adalah simpati untuk saya yang dalam perjalanan menuju tempat tes harus melawan penat berdiri di kereta mulai dari jember hingga bangil, dan melanjutkan perjalanan memutar di kota mojokerto untuk mencapai surabaya. Tapi saya tidak ingin melihat bentuk kekecewaan apapun dari mereka.  

            Saya sempat kehilangan mimpi-mimpi saya, membuangnya lebih tepat. Picik pikiran saya. Mengharapkan mereka tidak kecewa dengan tidak bermimpi lagi. Siapa saya. Seperti yang tuan Arai bilang: “Orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu.” Saya bagian dari kita yang tuan Arai maksud. Orang tua saya tidak pernah sekalipun memberikan saya sesuatu hal dengan serba instan. Saya masih ingat dimana saya berontak meminta motor dengan dalih jabatan bapak sebagai PNS yang bisa melakukan kredit. Tuan tahu apa jawaban mereka, mereka akan kredit asalkan saya berhenti sekolah, dan jadilah ojek dengan motor itu agar menghasilkan uang. Dieng…. Rontok keinginan saya. Di sekolah lah saya bermimpi untuk mereka. Tidak mungkin saya pergi dari tempat dimana mimpi-mimpi saya ada di sekitar tempat itu.

Kehilangan mimpi membuat saya menjadi manusia yang sungguh tidak berarti. Melihat kekecewaan mereka membuat saya menjadi orang yang gagal sepenuhnya. Tuan Arai, untuk selanjutnya, saya bermimpi sendirian, masih untuk mereka, dan saya tidak akan lagi mengabari mereka. Ada yang bilang kalau saya akan menutup pintu doa mereka dengan berjalan sendirian. Doa mereka lah yang sebenarnya saya butuhkan. Tapi saya tanggung risiko. Saya lebih senang memberi kejutan saja pada mereka, saya tidak akan melibatkan mereka untuk memiliki harapan. Tuan arai, begini lah saya bermimpi sekarang. Saya membentuk sebuah bangunan tinggi untuk mereka, dan saya akan menghancurkannya setelah semua tampak indah untuk mereka. Setelah semua siap. Tuan Arai, saya menjadi apa-apa karena saya bermimpi.





Welcome [Party]

16 06 2008

Universitas Jember telah mengedarkan calon mahasiswa baru yang telah diterima melalui jalur PMDK. Mereka telah datang, menegaskan bahwa siap menjadi mahasiswa Unej. Saya, mahasiswa Hubungan Internasional yang pada empat tahun lalu juga menegaskan kepada kampus ini bahwa saya siap menjadi mahasiswa-mu. Hai kawan, selamat datang di Kampus. Ketika mengikuti PK2 (Pengenalan Kehidupan Kampus), kakak-kakak tingkat yang pandai berbicara di depan kami menyebut kampus ini sebagai kampus perjuangan. Sungguh menggidik namanya. Deg-deg-ser saya rasakan ketika itu, demonstrasi yang sedang saya bayangkan waktu itu. Di televisi, saya melihat mereka yang hebat dalam bersuara selalu menyebutkan kampus perjuangan. Atau setidaknya, kampus perjuangan tertulis sombong dalam kain-kain yang mereka bawa. Kawan, saya bukan orang yang pandai berbicara di depan kalian, tapi saya ingin mengucapkan Selamat Datang di Kampus Universitas Jember.

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya lakukan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia yang biasa’. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman se-ideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan menjadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”

 

Kawan, kalian tahu darimana saya mengutipnya. Gie, Soe Hok Gie yang mengatakan itu semua. Dan saya pernah memikirkannya, dan saya ingin kalian memikirkannya juga. Saya merasakan kekaguman kepada mereka yang oleh Gie disebut mahasiswa semacam tadi. Dan saya juga kagum kepada mereka yang oleh Gie disebut “manusia-manusia yang biasa”. Mereka lah yang menyatakan sikap; saya akan mementingkan golongan saya, atau saya mau menjadi manusia yang biasa. Dan tahu kah kalian kawan-kawan baruku? Kalian akan melewati masa-masa itu, sesaat lagi. Dalam waktu dekat yang tidak akan pernah kalian sangka-sangka, ternyata benar-benar sebentar lagi.

Ketika kalian sudah menegaskan sikap kalian (registrasi, red), anak kampus sudah kalian sandang. Indah bukan? Tidak ada seragam. Tidak ada jadwal terikat. Tidak ada upacara. Yang jauh lebih keren lagi kalian menyandang agents of change. Jauh lebih indah lagi kan? Berbahasa inggris pula. Saya ingin memperlihatkan teman-teman yang saya anggap hebat (versi saya). Bisa kalian adopsi, jika kalian mau. Yang pertama, dia seorang kutu buku yang hebat. Dia masih ingat kapan perang dunia terjadi dan kapan berakhir. Di dalam ingatannya, tertanam benar angka-angka tahun yang dianggap penting dalam jurusan saya. Nama presiden ini, presiden itu, presiden sana, presiden sini. Kami menyebutnya ensiklopedia, encharta. Dan saya anggap dia hebat.

Ketika mengingat semuanya adalah hebat, maka teman saya yang kedua ini tidak sehebat teman saya yang pertama. Dia pandai berbicara di depan kelas. Dia seorang organisator. Bahkan dia sukses memenangkan pemilu kampus. Tapi dia sering terlambat ke kelas, tapi tetap saja pandai berbicara di kelas. Kawan, masih hebat juga kan teman saya yang kedua. Teman saya yang ketiga sama hebatnya dengan yang kedua. Dia selalu menyebutkan nama-nama tokoh dalam berargumen. Dia pandai mengutip argumen dari tokoh yang asing bagi kami. Dia mengeluarkan banyak istilah yang hanya dia dan dosen yang tahu. Hebat bukan?

Ketika pandai berbicara di depan kelas adalah hebat, maka teman saya yang keempat ini tidak sehebat teman saya yang kedua. Dia rajin kawan, dan aku selalu meminjam catatan kuliah kepada teman saya ini. Kalian tahu, dia selalu sukses membuat catatannya nangkring di tempat foto kopi. Dan menjelang UTS dan UAS, dia akan menjadi target operasi kami: mahasiswa pencari catatan. Dan dia sendiri? Dia begitu santai ketika UTS atau UAS. Santai dan pasti. IPK-nya tinggi kawan. Hebat juga bukan? 

Jika menjadi rajin mencatat adalah hebat, sungguh teman saya yang kelima ini jauh dari hebat. Setiap ke kampus, saya jarang mendapatinya membawa tas. Kalau tidak salah, hanya satu buku yang selalu ia bawa. Bahkan ketika saya pinjam, tak ada lima baris catatan yang ia buat. Bahkan, tak jarang saya temui hanya judul pembahasan yang ia tulis. Tapi, tahu kah kalian kawan? Ia pandai menulis. Ia seorang yang ulung dalam merangkai kata, kalimat, paragraf, dan logika berpikir yang indah, dan kutipan dari tokoh-tokoh yang asing di telinga saya. Dia benar-benar pandai menulis kawan.

Kawan-kawan baru-ku, hebat-hebat semua kan teman-teman saya? Bagaimana dengan saya? Saya tidak seperti kelima kawan di atas. Saya lupa kapan perang dunia dimulai dan berakhir, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Saya tidak tahu Presiden Costa Rica, Kroasia, atau pu Republik Dominika. Bahkan wakil presiden AS pun lepas dari memori saya. Yang saya ingat hanya hari kemerdekaan Indonesia. Yang saya ingat hanya Presiden AS. Saya juga bukan seorang organisator ulung. Saya hanya pernah bergelut di UKM Universitas. Saya tidak pernah mengadopsi argumen dari tokoh-tokoh yang terdengar aneh. Dan saya tidak pandai beragumen di depan kelas. Bisa dihitung berapa kali saya aktif di kelas, dan kebanyakan hanya dalam diskusi. Saya ingin rajin mencatat, tapi gagal. Hanya beberapa kali saja catatan saya hilang di tempat foto kopi. Tulisan saya juga tidak terlalu hebat. Seperti yang sedang kalian baca: kata, kalimat, paragraf tidak teratur rapi. Dan saya cuma bisa mengutip apa yang dikatakan Gie.

Selamat datang di kampus Univesitas Jember. Selamat bereksperimen dengan kehendak dan realita yang kalian temukan di kampus ini. Selamat menanti hasil dari eksperimen yang tak akan pernah berkesudahan. Sekali lagi, saya hanya mampu menghadirkan tulisan Gie (bukan karena kefanatikan saya padanya, hanya dia yang bisa aku hadirkan dalam tulisan ini):

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas atau golongan apapun.”

 

 





Menengadah Air di Bawah Langit

14 06 2008

Rabu, 11 Juni 2008, pukul 5:34, saya melihat awan di atas Jember mendung, begitu mendung bahkan. Saya mengurungkan hasrat untuk mencuci pakaian yang sudah separuh menumpuk di tempat cucian. Dan mengganggu pemandangan di dalam kamar. Perjalanan ke warnet mengantarkan saya untuk menikmati hari yang masih gelap itu, bukan masih gelap tapi gelap karena mendung. Mendung yang sangat. Hujan akan turun, pikirku. Perjalanan itu membawa saya pada kerinduan akan hujan. Saya merindukan mandi hujan. Saya rindu bermain di bawah hujan. Hasrat-ku tak terwujud, tak ada hujan, bahkan terang benderang.

Kegagalan hasrat itu merangsang saya membuat tulisan ini. Tulisan ini mengisahkan obat stress-ku yang pernah aku teguk selepas maghrib, pada sebuah hari yang aku telah lupa tanggalnya (masih di 2008), dan bersama teman-teman yang sama-sama butuh obat, dan/atau sengaja saya cekokin obat stress itu. Saya ingin menceritakan pergelutan-ku dengan air yang jatuh dari langit. Ketika masih kecil, sekarang pula, aku mengenalnya dengan hujan. Bapak pernah menceritakan soal hujan es, dan saya pernah melihatnya, kali ini saya lupa, bukan sekedar hari dan tanggal, tapi juga tahun, tapi saya masih ingat dimana. Saya menangkap es-es kecil dari pancuran di depan rumah. Dan kalau tidak salah, mendengar ada hujan es, saya menanyakan soal hujan uang. Melihat hujan es, saya menantikan hujan uang. Tapi sekarang tidak lagi.

Aku lupa bagaimana aku mendapatkan obat selepas maghrib itu. Sebelumnya, saya berimajinasi dengan kawan, yang nampaknya juga butuh obat, tentang mandi hujan bareng. Tidak ada respon, dan saya melupakannya. Seperti yang saya katakan, saya lupa bagaimana obat selepas maghrib itu muncul. Yang jelas aku dan kawan yang ku kira juga membutuhkan hujan, bermain di luar, dengan hujan. Dengan bau tanah yang mengawali peristiwa alam itu. Dengan angin yang menusuk kulit, benar-benar terasa. Aku belum mati rasa.

Ku dapati tidak hanya berdua. Ada beberapa yang ternyata bersedia bermain. Di tengah hujan, di tengah malam, di tengah angin. Ada bola. Ada saling memercik air. Air kotor di depan kaki lima. Entah apa yang mereka pikirkan tentang kami. Saya menikmati permainan itu. Saya tidak pusing karena hujan itu. Saya baik-baik saja. Merasa lebih baik. Hujan itu, angin itu, dingin itu. Dan ketawa mereka. Di perempatan jalan kampus, saya berhenti. Tepat di bawah lampu jalan yang kuning menyala. Saya berdiri di tengah-tengah cahaya. Menengadah air yang jatuh dari atas. Menengadah hujan. Dan saya senang olehnya.

Saat itu, saya berlabuh pada ingatan di masa kecil. Jangan hujan-hujannan. Kalau gerimis berteduh, awas pusing. Begitu lah Ibu-ku menyerewetiku. Dan saya masih anak-anak yang ingin bersama teman-teman, menangkap hujan yang jatuh, bermain dalam genangan air kotor. Balapan perahu di kali kecil yang kami temukan di sawah, beberapa puluh meter dari rumah saya. Dan saya senang. Setiap gerimis, saya yang masih kecil, tidak mencari tempat berteduh. Saya hanya mengayuh sepeda, berpetualang menerjang badai (hujan, red). Dan saya senang. Ibu selalu marah mendapati seragam sekolah-ku penuh dengan percikan tanah. “Makanya….” Akan panjang kalimat yang terpotong ini, ketika saya mengeluh pusing. Tapi saya senang menerjang badai itu. Beradu dengan yang lain.

Saya rindu pada hujan. Saya rindu bermain hujan. Saya rindu melibas gerimis yang katanya lebih menyakitkan daripada hujan. Saya rindu melentangkan tangan dan menengadah menanti air yang turun sedari tadi.





Happy Birthday

14 06 2008

Lelaki yang aku panggil Mas, dan Perempuan yang akan dia nikahi

Hari ini, 14 juni 2008, lelaki yang saya panggil Mas ulang tahun. Tahun 1982 dia lahir, melalui perhitungan mesin kalkulator, usianya sudah 26 tahun. Dan di usia ini, dia akan menikah. Tahun ini, setelah lebaran. I Miss You Bro: thank you for everything you give, for our relations recently. I found it’s great. Saya tidak lagi memaknai sikap-mu. Saya senang kita bisa tertawa lagi. Saya senang ada perempuan yang masuk dalam hidup saya, perempuan yang ternyata calon istrimu. Perempuan yang ternyata membuahkan hasil untuk ke-Mas-Adik-an kita. April Mop kemarin, saya senang mendapatimu meminta pertolongan (lagi! Setelah sekian lama). Sehari setelah April Mop, saya mendapat ucapan selamat dari perempuan itu: “Kolaborasi Mas dan Adik yang sempurna”. Saya pikir juga terlalu parah, apalagi ketika saya harus menyebut nama perempuan yang awalnya saya pikir akan menjadi kakak ipar saya. Hari-hari berikutnya, perempuan yang akan kau nikahi itu benar-benar memperbaiki kita. Pernah hampir tiap hari saya menerima teleponmu dan terbahak-bahak juga dengan perempuan itu. Melayanimu chatting di yahoo. Dan saya senang dengan itu. Terima kasih telah memperlihatkan perempuan yang saya senangi itu ketika saya kehabisan ongkos dalam perjalanan pulang ke rumah. Padahal, tidak tahu kah kamu betapa saya capek menunggu kamu di tempat itu, menunggumu dengan uang yang bisa membawsaya pulang ke rumah. Dan perkiraanku benar, seperti sebelum-belumnya, diam-diam kamu selalu menyiapkan kejutan. Kau menggandeng perempuan yang sudah saya yakini sebagai perempuan yang selama ini mengajari kita komunikasi. Thanks Bro, saya senang dan setuju dengan perempuan yang akan kau nikahi itu. Beri saya keponakan secepatnya. Happy birthday and see you soon in your marriage preparation. I’m really waiting for your great moment.